Demi Kemaslahatan; Perempuan Bisa Jadi Kepala Negara

Rekayasa konstruktif untuk mengegolkan ide keabsahan ke-pemimpinan perempuan dalam entitas negara kembali digelar. Ini terlihat dalam seminar sehari yang diselenggarakan di komisi VII DPR pada tanggal 4/7/2001. Seminar yang menghadirkan Nazaruddin Umar dan KH. Husein Mohamad itu bertujuan memberikan legitimasi syari’ah terhadap keabsahan kepemimpinan wanita dalam konteks negara. Meskipun demikian, seminar itu lebih tepat disebut sebagai rekayasa untuk mencairkan hambatan-hambatan teologis yang kerap kali berujung pada pemaksasesuaian nash-nash agama dengan kepentingan-kepentingan politik.

Perubahan sikap parpol-parpol Islam dari menolak kemudian mendukung ide keabsahan kepemimpinan wanita dalam negara dengan alasan kemashlahatan,telah menyisakan sebuah pertanyaan. Benarkah, mashlahat mampu menggeser ketentuan-ketentuan baku yang telah ditetapkan oleh al-Quran dan Sunnah? Bagaimana pandangan Islam mengenai mashlahat? Dalam konteks apa mashlahat bisa diterapkan? Tulisan ini mencoba mengkaji dan menempatkan mashlahat secara proporsional sesuai dengan koridor hukum Islam.

Kemashlahatan Terletak Pada Hukum Syara’Allah swt telah mencela dengan keras orang-orang yang beribadah kepada Allah swt atas dasar kemashlahatan-kemashlatan ‘aqliyyah. Allah swt berfirman, “

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” [al-Hajj:11]Ayat ini dilalahnya qathiy, menyindir orang-orang yang menyembah kepada Allah swt atas dasar kemashlahatan ‘aqliyyah. Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Ibrahim bin Haarits, dari Yahya bin Abi Bakir, dari Israil dari Abi Hushain dari Sa’ad bin Jabir dari Ibnu ‘Abbbas, artinya, “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi,” turun berkenaan dengan seorang laki-laki yang pergi ke Medinah (masuk Islam). Jika ia mendapatkan isterinya melahirkan anak laki-laki, kuda-kuda mereka berbiak, maka ia menyatakan bahwa agama ini baik. Akan tetapi bila isteri mereka tidak melahirkan anak laki-laki, dan kuda-kuda mereka tidak berbiak, ia berkesimpulan bahwa agama ini jelek. Kemudian orang tersebut berpaling dari Islam.” [Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir]

Allah swt juga mengecam dengan keras tindakan-tindakan ‘memelintir ayat-ayatNya” untuk tendensi-tendensi sesaat. Allah swt berfirman:

Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka sengaja melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka…”

Allah swt juga menandaskan dalam firmanNya:

Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan sendau gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidpan dunia, Peringatkanlah mereka dengan al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri.” [al-An’aam:70]

Tidak ragu lagi! Pemelintiran ataupun pemerkosaan terhadap ayat-ayat Quran dengan alasan kemashlahatan akan diganjar dengan siksa pedih di neraka. Ayat di atas juga menunjukkan kepada kaum muslimin haramnya menjadikan mashlahat sebagai sumber hukum.

Apabila manusia dibiarkan menentukan hukum berdasarkan kemashlahatan, tentu akan berakibat pada pertentangan, perselisihan, bahkan perdebatan yang berlarut-larut. Padahal, kemashlatan hakiki hanya Allah swt yang mengetahui. Baik menurut manusia belum tentu baik secara substantif di sisi Allah. Buruk menurut manusia, belum tentu buruk di sisi Allah. Allah swt telah menjelaskan dengan gamblang, bahwa manusia tidak mungkin bisa memahami kemashlahatan yang hakiki, kecuali bila mereka berjalan sesuai dengan al-Quran dan Sunnah. Allah swt berfirman:

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kami tidak mengetahui.” [al-Baqarah:216].

Meskipun ayat ini pada pecahan awalnya berbicara tentang perang, akan tetapi lafadz “syaian” pada pecahan berikutnya bermakna umum untuk segala sesuatu. Lalu, bagaimana manusia bisa memahami bahwa sesuatu itu, secara hakiki adalah mashlahat? Secara umum, tatkala manusia menetapkan baik buruk bisa dilihat dari tiga aspek yang menonjol.

Pertama, baik buruk ditinjau dari sisi fakta itu sendiri. manusia bisa menetapkan baik dan buruknya berdasarkan fakta itu sendiri. Contohnya, racun berbahaya bagi tubuh manusia. Obat itu baik bagi kesehatan, dll.

Kedua, dari sisi kesesuaian atau ketidaksesuaian dengan fithrah manusia dan kecenderungannya. Manusia dengan akalnya bisa menetapkan baik buruk berdasarkan fithrah dan kecenderungannya secara substantif. Semisal, bodoh itu buruk, pandai itu baik. Kedzaliman itu buruk, keadilan itu baik.

Ketiga, dari sisi pahala dan siksa. Manusia tidak mungkin bisa menetapkan dengan akalnya, apakah sebuah perbuatan berpahala atau mendapatkan dosa. Akal tidak mampu menjangkau hal ini. Pihak yang menetapkan apakah sebuah perbuatan berpahala atau tidak, hanyalah Allah swt.Padahal, seluruh perbuatan kaum muslim, harus dikaitkan dengan pahala dan siksa dari Allah swt. Tatkala mengerjakan sesuatu seorang muslim harus terikat dengan aksioma, “apakah perbuatan saya ini mendapatkan ridloNya atau tidak?”

Atas dasar ini, manusia tidak mungkin bisa meraih kemashlahatan hakiki tanpa ada ukuran-ukuran yang jelas. Lalu, apa ukuran, bahwa suatu perbuatan secara hakiki mengandung kemashlahatan? Jawabnya adalah; sesuai dengan hukum Allah swt. Allah swt telah menyatakan, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”[al-Anbiyaa”:107]. Rahmat bagi penjuru alam tidak tercipta semata dari pribadi Rasulullah saw saja, akan tetapi ia muncul dari sifat beliau saw sebagai utusan Allah yang membawa wahyu. Apabila wahyu ini diterapkan atas seluruh manusia, maka terwujudlah rahmat bagi penjuru alam. Tercipta pula kemashlahatan bagi seluruh umat manusia. Sebaliknya, meskipun Rasulullah saw telah diutus, akan tetapi syari’at yang dibawanya tidak pernah diterapkan dalam kehidupan, bukan rahmat yang didapatkan, namun laknat yang mereka dapatkan

KRITIK TERHADAP MASHALIH AL-MURSALAHSebagian kaum muslimin menganggap mashalih al-mursalah sebagai dalil syara’. Padahal ia bukanlah dalil syara’. Mashalih al-mursalah adalah kemashlahatan yang tidak ditunjukkan oleh dalil khusus, akan tetapi kemashlahatan itu bisa dirujuk dengan syarat bisa menghapuskan kesulitan.[‘Atha’ Ibnu Khalil, Taisiir al-Wushuul ila al-Ushuul, Dirasaat fi Ushuul al-Fiqh, hal.111] . Melihat definisi di atas, mashaalih al-mursalah tidak bisa digunakan sebagai sumber dalil. Alasannya sebagai berikut; pertama, perintah tegas dan jelas dari Allah swt agar kaum muslimin merujuk kepada al-Quran dan sunnah tatkala terjadi perelisihan pendapat. Allah swt berfirman:

Kemudian, jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan RasulNya (Sunnah), jika kami benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.’ [al-Nisaa;59].

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.” [al-Syura:10]Ayat ini memerintahkan kepada kaum muslim agar merujuk kepada Kitabullah dan sunnah RasulNya, ijma’ shahabat, dan qiyas, bukan merujuk kepada mashalih al-mursalah, atau pendapat-pendapat seorang mujtahid. Merujuk kepada mashalih al-mursalah dalam menyelesaikan persengketaan pendapat sama artinya tidak merujuk kepada al-Quran dan sunnah. Padahal, perbuatan apapun yang tidak didasarkan kepada al-Quran dan sunnah, maka perbuatan tersebut tertolak di sisi Allah swt.

Kedua, mashalih al-mursalah hanya tepat digunakan dalam hal-hal mubah. Bila kesimpulan hukum yang didasarkan kepada mashalih al-mursalah bertentangan dengan nash-nash yang sharih, maka kesimpulan itu tidak bisa menggeser ketetapan hukum yang digali dari nash-nash yang sharih. Sanksi potong tangan tidak bisa digeser dengan alasan kemashlatan. Hukum rajam bagi pezina muhshon tidak bisa dibatalkan dengan alasan mashlahat. Walhasil, mashalih al-mursalah tidak layak digunakan dalil untuk menggali sebuah hukum. Cukuplah al-Quran, Sunnah, Ijma’ Shahabat dan Qiyas sebagai sumber hukum bagi kaum muslimin.BERHARAP PADA ANGAN-ANGAN KOSONGPakar-pakar politik di negeri ini beranggapan bahwa dengan tampilnya Mega ke tampuk kekuasaan, diharapkan bisa meredam krisis multidimensional. Asumsi-asumsi ini bahkan terus digulirkan oleh parpol-parpol Islam. Lalu, apa yang mereka harapkan dengan naiknya Mega? Padahal track record Mega tidak kalah menyedihkan dibandingkan Gus Dur. Apakah parpol-parpol Islam tersebut berharap Mega –dengan dukungan PDI—menerapkan syari’at Islam secara kaaffah. Wahai! Bukan itu yang mereka harapkan! Kaum muslim di negeri tentu masih ingat, bagaimana penolakan PDI terhadap penerapan syari’at Islam di Aceh, walaupun akhirnya ada klarifikasi. Kaum muslim tentu masih ingat akan kasus Theo Syafi’iy di Maluku. Tentunya, kaum muslimin juga masih ingat dengan pernyataan-pernyataan keras Gus Dur menolak pemberlakuan syari’at Islam sebelum memegang tampuk presiden.

Lalu, benarkah pimpinan-pimpinan Parpol Islam itu ikhlash menaikkan Mega untuk menerapkan syari’at Islam! Jawabnya, tidak!! Apakah dengan naiknya Mega atau siapapun yang nanti akan dipilih mampu menyelesaikan kemelut di negeri ini? Kami menyatakan, selama sistem yang menaungi negeri ini sistem kufur, maka pergantian sejuta kalipun tidak akan membawa perubahan yang berarti, selama sistem yang diberlakukan tidak diubah. Sungguh, hanya kembali kepada syari’at Islam, dengan jalan menegakkan Daulah Khilafah Islamiyyah, seluruh problem kemanusiaan akan tertangani. Mencabut sistem kapitalisme kemudian diganti dengan sistem Islam merupakan keniscayaan bagi penyelesaian krisis kemanusiaan. Lalu, apakah umat akan terus disibukkan dengan ‘hingar-bingar’ murahan dan rendahan untuk menurunkan person-person tertentu, akan tetapi melupakan persoalan dasarnya? Yakni memberlakukan sistem Islam.

Apakah umat menyadari, bahwa parpol-parpol yang bercokol di Parlemen kita, telah mengkhianati amanah umat Islam untuk memberlakukan syari’at Islam. Apakah umat masih belum sadar, bagaimana DPR dan MPR kita telah mengabsahkan kenaikan harga BBM akibat tekanan lembaga keuangan kafir barat, IMF namanya?

Wahai kaum muslim. Sadarlah kalian! Parpol-parpol yang mengatasnamakan Islam itu, telah mengkhianati kalian. Mereka tidaklah serius menerapkan syari’at Allah di bumi ini. Bahkan mereka telah mempermainkan kalian dengan tipu daya rendahan, agar kalian puas dengan hanya diterapkannya hukum-hukum Islam secara parsial. Padahal, bukankah kita diperintahkan untuk kembali kepada hukum Allah secara total, dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyyah.

Sungguh problematika yang menghimpit kaum muslim di manapun mereka berada hanya bisa diselesaikan hanya dengan kembali kepada al-Quran dan Sunnah. Allah swt berfirman, artinya, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.[Thaha:124] Wallahu a’laam bi al-shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: