Ambon Masih Berdarah

Ambon bersimbah darah lagi. Sekitar 22 jiwa kaum Muslim kembali melayang akibat berondongan peluru pasukan Yon Gab—batalyon gabungan yang beranggota prajurit elite Paskhas, Kopassus, dan Marinir (Media Indonesia, 26/6/2011). Dalam peristiwa yang berlangsung Kamis (14/6/2001) dua minggu lampau di Kebun Cengkeh Ambon itu, kebanyakan korban yang meninggal adalah orang-orang yang sedang sakit dan dirawat di Poliklinik Laskar Jihad Ahlussunnah Wal Jamaah (Republika, Jumat, 22/6/ 2001).

Tindakan brutal Yon Gab ini bukan untuk yang pertama kali. Januari lalu di Batu Merah, Ambon, aksi Yon Gab juga menewaskan puluhan kaum Muslim. Peristiwa itu saja telah cukup menimbulkan trauma tersendiri bagi masyarakat terhadap kehadiran Yon Gab di Ambon.

Yang tak kalah menyakitkan, Yon Gab juga disinyalir telah secara sengaja menginjak-injak dan merobek-robek al-Quran (Republika, 26/06/2001).

Wajar jika peristiwa tersebut menyisakan pertanyaan bernada satir: Apa sebenarnya yang diinginkan Yon Gab dengan aksi sadis mereka? Apakah umat Islam adalah musuh yang harus diperangi? Juga, kalau pembantaian yang dilakukan itu dianggap sudah “sesuai prosedur”, apakah memang ada prosedur tertentu untuk membantai pasien yang sedang dirawat di rumah sakit di mana korban (bersama para petugas medik) diseret dari ruang perawatan dan akhirnya ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan? Padahal, dalam perang pun ada aturan untuk merawat musuh yang luka. Pasien-pasien ini jelas bukan musuh dan mereka sedang sakit. (Republika, idem).

Sangat disayangkan, sikap pemerintah, dalam hal ini Presiden Wahid, yang nyaris tidak menaruh kepedulian sedikit pun terhadap masalah Ambon. Bahkan, sejak awal, ketika pembantaian kaum Muslim Ambon telah berlangsung satu tahun, Wahid dengan enteng meminta kepada masyarakat Ambon untuk menyelesaikan sendiri masalahnya (Antara, 12/12/1999). Sikap yang tak sebanding dengan sikapnya yang lain yang demikian serius saat menanggapi Peristiwa Pasuruan yang menewaskan satu orang pendukungnya.

Menyaksikan realitas kaum Muslim yang terus disakiti dan ditembaki, penderitaan mereka yang tak kunjung berhenti, serta penguasa yang sama sekali tak peduli, kaum Muslim sudah selayaknya bertanya: Apa sesungguhnya yang terjadi di Ambon? Mengapa kaum Kristiani tetap dibiarkan? Mengapa Yon Gab bertindak brutal dan biadab terhadap kaum Muslim? Mengapa penguasa cenderung tidak peduli? Adakah keterlibatan pihak asing dalam kasus Ambon? Bagaimana seharusnya kaum Muslim bersikap? Bagaimana pula solusi Islam yang riil untuk mengatasi persoalan tersebut?

Siapa Ikut Bermain?

Dalam kasus Ambon yang telah mengorbankan ratusan jiwa kaum Muslim, setidaknya ada 5 (lima) pihak yang ikut bermain: Pertama, RMS. Meskipun setelah hampir dua tahun membantah terlibat dalam berbagai kerusuhan di Maluku, RMS toh terbukti mendeklarasikan kemerdekaan RMS tanggal 18/12.2000. Artinya, apa yang dilakukan oleh RMS selama ini, termasuk membantai kaum Muslim Ambon, adalah dalam rangka memerdekakan diri dari NKRI.

Kedua, kaum Kristen Ambon. Sebagaimana diketahui, sejak Front Kedaulatan Maluku (FKM) memploklamirkan kemerdekaan bagi Republik Maluku Selatan (RMS) pada tanggal 18/12 2000 lalu, hingga kini tidak ada satu tokoh Kristen yang menentang pendeklarasian itu. Hal ini wajar karena yang berada di belakang FKM adalah orang-orang Kristen Ambon sendiri.

Ketiga, Yon Gab. Jika memang semua tindakan pembantaian aparat Yon Gab terhadap kaum Muslim telah sesuai dengan prosedur, berarti benarlah anggapan sebagian kalangan bahwa kasus tersebut menjadi bukti betapa pasukan Yon Gab yang dikirim ke Ambon bukan dimaksudkan untuk menyelesaikan konflik, tetapi justru untuk menambah ruwetnya konflik. Pasalnya, menurut keterangan Kapuspen TNI Marsda Graito Usodo, sebagaimana dikutip Koordinator Kontras, Munir, Yon Gab dibentuk secara khusus; dilantik dan dilatih di Jakarta untuk melakukan operasi-operasi shock theraphy dan “mem-back up” aparat di wilayah Maluku dan berada di bawah komando Pangdam Pattimura. “Itu artinya,” kata Munir, “metode kerja dan perintah kerja itu langsung dari Jakarta.” (TEMPO Interaktif, 22/6/2001).

Keempat, penguasa, termasuk para wakil rakyat. Meskipun tidak secara langsung, diamnya pemerintah, terutama yang selama ini ditunjukkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid (juga DPR), menjadi bukti bahwa penguasa—sengaja ataupun tidak—turut berperan dalam memperpanjang konflik (baca: pembantaian) dan penderitaan kaum Muslim di Ambon.

Kelima, pihak asing. Keterlibatan pihak asing, meskipun tidak secara transparan, ditunjukkan antara lain oleh sikap pemerintah Belanda yang sejak lama memang menyokong gerakan RMS. Di samping itu, secara tidak langsung, pemerintah AS juga disinyalir ikut bermain dalam berbagai konflik yang terjadi di Indonesia, termasuk Ambon. Hal ini setidaknya diungkapkan oleh Dr. AC Manullang, Mantan Direktur Intelejen BAKIN. Dalam wawancaranya dengan Koran Tempo, ia menyatakan bahwa ada keterlibatan CIA dalam berbagai kerusuhan seperti di Aceh, Sampit, Kapuas, Pangkalan Bun, Ambon, Irian, dan daerah lain. Tujuannya adalah agar Indonesia chaos.

Di samping bahwa AS tidak ingin Islam menjadi kuat. Karena begitu pentingnya Indonesia, AS mengirim banyak agen CIA ke sini. Mereka meng-cover setiap peristiwa. (Koran Tempo, 20/4/2001).

Keterlibatan AS dalam berbagai konflik di Indonesia, terutama di Ambon, memang baru sebatas analisis. Akan tetapi, siapa pun tahu, bahwa AS memiliki banyak kepentingan atas Indonesia. Hal ini ditegaskan kembali oleh sikap AS untuk tetap menjadikan Indonesia sebagai prioritas dalam hubungan luar negerinya (Media Indonesia, 22/6/2001).

Mengambil Sikap

Melihat realitas persoalan di atas, terlalu berharap kepada wakil rakyat, apalagi kepada penguasa saat ini, tidaklah akan banyak berarti. Pasalnya, baik wakil rakyat (meskipun mayoritas Muslim) ataupun penguasa (yang bahkan bergelar “kyai”) sama-sama tidak memiliki sense of crisis, terutama dalam krisis yang melanda umat Islam. Perjalanan Krisis Ambon yang telah memasuki tahun ketiga dan telah banyak merenggut nyawa ratusan kaum Muslim menjadi bukti betapa para wakil rakyat dan penguasa demikian abai terhadap berbagai persoalan yang mendera rakyatnya sendiri. Mereka tampak lebih mementingkan upaya mempertahankan atau merebut kekuasaan ketimbang mengurusi rakyatnya sendiri.

Oleh karena itu, umat Islam dari berbagai elemen—baik sebagai individu, anggota masyarakat, maupun organisasi dan partai Islam—sudah seharusnya menunjukkan tindakan riil untuk turut serta menyelesaikan masalah Ambon. Kita pun berharap kepada pihak aparat keamanan yang merasa dirinya Muslim—dari panglima tertinggi hingga prajurit rendah—untuk menunjukkan jatidirinya sebagai Muslim dan menunjukkan identitas keislamannya dengan cara memberikan simpati dan dukungan (sebagai bukti ukhuwah Islamiyyah) kepada sesama Muslim yang menderita; bukan malah bersikap sebaliknya.

Tindakan riil tersebut dapat ditempuh oleh umat Islam antara lain melalui beberapa upaya berikut:

Pertama, umat Islam harus terus mengembangkan opini jihad fi sabilillah sebagai satu-satunya solusi riil pada saat ini untuk menuntaskan masalah Ambon. Upaya-upaya yang dilakukan oleh Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah untuk terus memerangi pihak-pihak pembantai kaum Muslim di Ambon mestinya mendapatkan apresiasi yang baik, khususnya dari Yon Gab. Bukankah Allah SWT telah memberi ijin kepada kaum muslimin untuk membela diri:

Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Sesungguhnya Allah benar-benar Makakuasa untuk menolong mereka. (QS al-Hajj [22]: 39).

Kedua, umat Islam harus terus menunjukkan kesadarannya bahwa masalah Ambon hanyalah salah satu masalah dari berbagai masalah yang mendera mereka. Semua itu harus disadari sebagai produk asli dan konsekuensi logis dari diterapkannya sistem kapitalisme-demokrasi yang kufur di tengah-tengah kaum Muslim.

Oleh karena itu, opini untuk menggusur kapitalisme-demokrasi dan sekaligus menerapkan syariat Islam secara total mesti terus ditumbuhsuburkan. Allah SWT. berfirman:

Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50).

Ketiga, umat Islam harus menarik kembali loyalitas (wala)-nya yang selama ini telah diberikan kepada peguasa dan wakilnya, karena mereka sendiri terbukti tidak “loyal” kepada mereka; dalam arti tidak memperhatikan berbagai kepentingan mereka. Allah SWT sendiri telah menegaskan bahwa ketaatan kaum Muslim hanya wajib ditujukan kepada Allah, Rasul-Nya, dan ulil amri yang berpihak kepada mereka. Allah SWT. berfirman:

Hai orang-orang beriman, taatlah kalian kepada Allah, kepada Rasul, dan kepada ulil amri di antara kalian. (QS an-Nisa’ [4]: 59).

Keempat, umat Islam harus terus menumbuhkan kesadaran bahwa setiap gejolak yang terjadi di dalam negeri tidak pernah lepas dari tangan-tangan asing, terutama Amerika, yang memiliki banyak kepentingan di berbagai negeri Muslim, termasuk Indonesia. Pasalnya, Amerikalah yang selama ini merupakan pengawal utama ideologi kapitalisme-demokrasi di berbagai negeri di dunia. Pada faktanya, kapitalisme-demokrasi hanya banyak menghasilkan berbagai keuntungan bagi Amerika dan antek-anteknya, dan sebaliknya, selalu merugikan kaum Muslim.

Oleh karena itu, Amerika dan antek-anteknya pulalah yang selama ini begitu gencar memerangi kaum Muslim—baik secara pemikiran maupun fisik— untuk mencegah diterapkannya sistem Islam secara total dan digusurnya kapilatisme-demokrasi. Amerika tahu, jika Islam tegak, mereka tak dapat lagi memperdaya negeri-negeri Islam.

Khatimah

Berbagai sikap yang harus diambil oleh kaum Muslim di atas, khususnya dalam merespon kasus Ambon, sebagiannya memang tampak normatif sekali. Akan tetapi, jika kita tidak bertolak dari yang normatif, selamanya kita hanya akan melakukan tindakan-tindakan yang bukan saja kontradiktif, tetapi juga akan sangat kontraproduktif. Perjuangan lewat parlemen yang mengabaikan aspek normatif Islam, misalnya, meskipun dengan niatan dan tujuan mulia (ingin menegakkan Islam dan membela kaum Muslim), terbukti tidak efektif mencegah pembantaian kaum muslimin di tanah air mereka sendiri.

Oleh karena itu, satu-satunya solusi untuk mengatasi berbagai persoalan yang melanda umat Islam tidak lain bahwa mereka harus kembali kepada hukum Allah secara total. Caranya tentu saja adalah dengan senantiasa terus berjuang untuk menegakkan Daulah Islamiyah. Pasalnya, secara normatif, Daulah Islam adalah satu-satunya yang memiliki legitimasi syariat dibandingkan dengan sistem apa pun yang selama ini eksis; baik sistem yang bersumber dari ideologi kapitalisme-demokrasi maupun sosialisme-komunis. Secara riil, paling tidak dalam konteks historis, Daulah Islam di masa lalu, sejak dirintis oleh Rasulullah saw. di Madinah hingga keruntuhannya pada tahun 1924, terbukti menjadi satu-satunya institusi yang bisa mengayomi Islam dan kaum Muslim selama nyaris 13 abad.

Marilah kita renungi sabda Rasulullah saw.:

Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah pelindung. Dia bersama pengikutnya berperang (melawan orang-orang kafir dan orang-orang zalim) dan memberikan perlindungan (kepada orang-orang Islam) (HR al-Bukhari-Muslim).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: