Derita Palestina; Yahudi Biadab, Para Penguasa Arab Berkhianat

Ini baru namanya mati syahid. Sebagaimana diberitakan berbagai media massa, seorang pemuda Palestina, yang melapisi seluruh tubuhnya dengan bom rakitan, meledakkan dirinya Jumat malam (1/6) di tengah keramaian remaja Yahudi yang sedang antri karcis klub malam di kawasan pantai terkenal, Dolphinarium, Tel Aviv. Sedikitnya, 21 remaja Yahudi tewas dan 120 orang lainnya cedera. Guncangan bom tersebut telah memaksa Arafat untuk mengajukan gencatan senjata yang kemudian diterima Israel dengan catatan, sebagaimana dikemukakan oleh PM Israel, Ariel Sharon, ”Arafat harus segera menghentikan teror dan aksi kekerasan serta menangkap lagi para aktivis garis keras yang telah dibebaskan.” (Kompas, 5/6/2001).

“Bom Syahid” ini sebetulnya hanyalah letupan kecil jika dibandingkan dengan, misalnya, peristiwa Intifadah al-Aqsha sekitar delapan bulan lalu yang menewaskan ratusan rakyat Palestina. Apalagi bahwa letupan tersebut sebetulnya lebih merupakan reaksi balik dari semakin “menggilanya” tindakan terorisme Israel selama delapan bulan terakhir. Seperti diketahui, Israel telah memainkan “babak baru” dalam aksi terornya. Tidak cukup menggunakan ‘bedil’ untuk membunuhi rakyat Palestina, Israel –tanpa tanggung-tanggung — menggunakan pesawat tempur buatan Amerika F-16 dengan dalih “membalas” aksi bom syahid sebelumnya di Kota Netanya.

Kejadian yang terakhir ini, sebagaimana diungkap Ahmad Dumyathi Bashori dan Anan Nurdin (Republika, Jum’at, 01/06/2001) adalah ”prestasi” Sharon—sang penjagal rakyat Palestina—yang kedua setelah melakukan kekejaman yang sama pada akhir September 2000 lalu; setelah jauh sebelumnya (1967) ia menyulut peristiwa berdarah.

Mungkin, bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, membahas masalah Palestina di tengah gonjang-ganjing dan huru-hara perpolitikan dalam negeri saat ini menjadi kurang menarik. Pasalnya persoalan di dalam negeri sendiri sudah menumpuk.

Akan tetapi, Palestina, bagaimana pun, merupakan bagian yang tidak pernah terpisahkan dari seluruh permasalahan yang tengah dihadapi kaum Muslim. Bukan saja karena penduduk Palestina, yang mayoritas Muslim, puluhan tahun berada dalam penderitaan di bawah kepongahan dan kebiadaban Yahudi-Israel, tetapi juga karena Yerusalem dan tanah Palestina, masing-masing sebagai kota suci kaum Muslim dan tanah milik mereka, telah lama dirampas dan dikuasai oleh Israel. Karenanya, mencermati permasalahan di Palestina sama pentingnya dengan pembahasan masalah-masalah kaum Muslim lainnya.

Israel Pongah, Arafat Pengecut

Survei yang dilakukan oleh lembaga Israel, Dahava, pada Senin, 21/5/2001 (Islam online, 22/5/2001), sebagaimana diungkapkan oleh Ahmad Dumyathi Bashori dan Anan Nurdin pada harian yang sama, mengatakan bahwa 61 persen bangsa Yahudi telah menghendaki perang terbuka dengan Palestina sebagai “realisasi perdamaian” yang mereka wujudkan di Palestina. Ironisnya, “kejujuran” Israel ini disambut hangat dengan kepengecutan Arafat dan pengkhianatan para penguasa Arab lainnya. Mereka, misalnya, senantiasa menawarkan kesediaan untuk menerima begitu saja jabat tangan “perdamaian”—dengan penuh ketundukan sekaligus pengharapan—yang ditawarkan Israel dengan dukungan Amerika dan PBB; meskipun kadang tanpa kompensasi apa pun dan bahkan sering hanya menimbulkan kerugian demi kerugian yang diterima pihak Palestina.

Dari Washington, misalnya, kurang-lebih sebulan yang lalu dilaporkan bahwa utusan khusus AS William Burns telah mengadakan pertemuan dengan Arafat dan PM Israel Ariel Sharon guna merekomendasikan usulan Komisi Mitchell, yang antara lain berisi seruan untuk mengakhiri ekspansi pemukiman warga Israel dan penghentian “tindakan terorisme” rakyat Palestina sebelum perundingan langsung kembali dilakukan. (Republika, 30/4/2001).

Sementara itu, di tengah semakin meningkatnya kebiadaban Israel, jauh-jauh hari Yasser Arafat menegaskan kesediaannya mewujudkan perdamaian yang berani dan komitmennya terhadap semua kesepakatan yang telah dicapai. Hal ini pernah diungkapkan kembali oleh pemimpin Palestina ini sekitar dua bulan yang lalu pada sambutan pembukaan Sidang Dewan Legislatif putaran ke-6 (10/3/2001) di Gaza City. “Saya tegaskan kepada rakyat dan pimpinan baru Israel dari mimbar Dewan Legislatif ini, dengan dukungan penuh rakyat pejuang kami, bahwa hati kami terbuka serta tangan kami terulurkan untuk mewujudkan perdamaian yang berani dan komitmen atas semua kesepakatan yang telah dicapai,” tegas Arafat.

“Kami siap melakukan perundingan dengan Pemerintah Israel, jika mereka menghendaki. Kami pun siap segera berunding untuk melanjutkan perundingan damai dengan Pemerintah Israel sebelum ini yang berakhir dengan perundingan di Sharm Al-Sheikh dan Taba,” lanjutnya. (Kompas, 12 Maret 2001).

Demikianlah ironisme Arafat yang ditunjukkan dengan tindakan tegasnya untuk terus-menerus melanjutkan perdamaian—yang berarti hanya semakin memperpanjang penderitaan kaum Muslim Palestina serta menambah kepongahan dan kebiadaban Yahudi Israel—dan, sebaliknya, sikap pengecutnya yang ditunjukkan oleh keengganannya selama ini untuk melakukan jihad terhadap Yahudi-Israel itu.

Padahal, inisiatif perdamaian tersebut sesungguhnya dimaksudkan untuk memperkuat legitimasi terhadap keberadaan Israel dan kerelaan kaum Muslim terhadap perampasan yang dilakukan Israel atas tanah Palestina; serta membuat semacam ‘kelenjar kanker’ di jantung Umat Islam. Sementara, Hukum Islam tentang hal itu sangat jelas yakni bahwa jihad adalah fardhu ‘ain atas seluruh penduduk negeri Islam yang dirampas oleh orang kafir. Allah Swt. berfirman:

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, menghinakan mereka, menolong kalian terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman” (QS at-Taubah [9]:14).

Atas dasar itu, upaya untuk meneruskan inisiatif perdamaian apa pun dengan pihak Yahudi-Israel merupakan tindakan kriminal yang sangat mungkar dan pelanggaran atas kehormatan Allah, khususnya dalam kondisi yang dihadapi kaum Muslim Palestina seperti ini, yakni kondisi ketika mereka pada saat ini sedang memohon perlindungan kepada Allah dan meminta bantuan kepada kaum Muslim agar mereka terlindung dari pembunuhan dan pengusiran.

Penguasa Arab Berkhianat

Dalam hal kepengecutan dan kehinaan, reputasi para penguasa Arab tidak kalah dengan Arafat. Lebih dari 52 tahun sejak Palestina diduduki Israel pada tahun 1948, atau bahkan lebih dari 75 tahun sejak sebelum kejatuhan Khilafah Turki Utsmani tahun 1924, para elit politik dan penguasa Arab telah secara lancang menjual tanah Palestina.

Mengikuti jejak antek Inggris sebelumnya, Syarief Hussein serta Faisal dan Abdullah, putranya, yang memberikan kontribusi atas ‘tergadainya’ tanah Palestina ke tangan Israel (Iyad Hilal, Qadiyah Palistîn: al-Jadûr wa al-Hal, 1993), para penguasa Arab dan penguasa kaum Muslim—seperti Mubarak, Raja Fahd, dll— juga melanggengkan dominasi Israel melalui sejumlah konferensi tingkat tinggi di antara mereka. Salah satunya adalah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab, yang telah berjalan beberapa kali. Terakhir, yakni yang ke-24, dilaksanakan pada 28/3/2001 di Kairo.

Sesungguhnya konferensi tersebut, seperti juga konferensi sebelumnya, telah menghasilkan sejumlah rekomendasi yang dibungkus dengan berbagai retorika kosong. Bahkan, sebaliknya, rekomendasi tersebut, secara tersirat, menyempurnakan ‘legalitas’ hukum atas perampasan Yahudi terhadap tanah Palestina dan berbagai tindakan kriminalnya yang buas dan kian intensif.

Jika demikian persoalannya, apakah para penguasa itu lupa atau berpura-pura lupa pada tanggung jawabnya terhadap rakyat mereka?

Sesungguhnya mereka tidak pernah lupa terhadap tindakannya memperkuat pengkhianatan mereka melalui konferensi tersebut. Pasalnya, dinyatakan misalnya, bahwa, “Para pucuk pimpinan negara-negara Arab akan lebih menegaskan komitmen mereka terhadap berbagai rekomendasi (baca: resolusi) yang dikeluarkan oleh Dewan Keamanan PBB dalam kaitannya dengan status Kota al-Quds, khususnya resolusi DK PBB nomor 252 (1968), 267 dan 465 (1980), 478 (1980).”

Ungkapan tersebut jelas mengabaikan al-Quds dan merupakan aksi ‘cuci tangan’ dari tanggung jawab mereka atas masalah Palestina. Pasalnya, di sana terkandung isyarat penyerahan persoalan al-Quds kepada Dewan Keamanan untuk mengambil kebijakan atas kota tersebut. Dengan demikian, resolusi DK PBB tersebut, termasuk sejumlah resolusi lainnya yang dikeluarkan sejak tahun 1948, tidak memuat satu rekomendasi pun yang menetapkan bahwa al-Quds adalah hak kaum Muslim.

Jelaslah bahwa komitmen para penguasa Arab terhadap berbagai resolusi DK PBB, menunjukkan adanya tipudaya busuk yang biasa dilakukan oleh mereka. Dari sinilah kita bertanya-tanya, “Lalu, apa yang diperbuat oleh para penguasa tersebut dalam kurun yang amat panjang untuk mengembalikan al-Quds dari penguasaan orang-orang Yahudi?” Jawabnya: Tidak satu pun!

Sejumlah rekomendasi awal yang sangat berbahaya yang dihasilkan pada KTT tersebut, khususnya pada KTT di Kairo tahun 1964 dan KTT di Ribath tahun 1973, adalah upaya untuk menghilangkan faktor Arab dari persoalan Palestina, setelah sebelumnya dilakukan upaya untuk menghilangan faktor Islam dari persoalan tersebut. KTT tersebut juga telah merekomendasikan pembentukan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan menjadikannya sebagai institusi satu-satunya—yang berarti menafikan anasir lain di luar PLO, seperti Hammas yang kemudian malah dicap sebagai kaum teroris—yang mewakili Palestina untuk ‘menyelesaikan’ persoalan Palestina. Upaya untuk membebaskan Palestina ini kemudian berhenti setelah terjadinya Kesepakatan Oslo antara PLO dengan pihak Yahudi. Ini terjadi setelah PLO mengurangi kewajibannya atas Palestina yang diduduki sejak tahun 1948 dan setelah dimulainya perundingan dengan Yahudi pada tahun 1967 di seputar wilayah pendudukan, yang tidak sampai melebihi seperlima bagian wilayah Palestina. Setelah itu, pihak ‘penguasa’ Palestina rela atas bagian dari seperlima itu, padahal orang-orang Yahudi sendiri tidak merelakannya. Fenomena ini hanya menunjukkan semakin bertambahnya penghinaan dan pelecehan atas bangsa Palestina dan kaum Muslim.

Sikap yang Harus Diambil

Siapa pun yang kritis dalam memandang seluruh KTT tersebut akan menjumpai bahwa berbagai rekomendasi yang dikeluarkan pada konferensi tersebut merupakan bentuk konspirasi terhadap Palestina, pengecilan sebagian besar wilayah Palestina, pengokohan institusi Yahudi, serta membuat pihak Yahudi semakin berani untuk bersikap arogan dan terus-menerus melakukan tindakan kriminalnya. Atas dasar itu, penyelenggaraan berbagai konferensi tersebut hanyalah pengkhianatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan jemaah kaum Muslim. Semua itu tidak menghasilkan apa pun kecuali realisasi berbagai kepentingan Barat-kafir dan Yahudi.Oleh karena itu, bangsa Arab yang terdiri lebih dari 20 negara dan kaum Muslim yang terdiri lebih dari 50 negara wajib mendirikan satu negara, yakni Daulah Khilafah Islamiyah, karena Allah Swt. mewajibkan hal demikian. Sesungguhnya keberadaan para antek Barat yang rendah dan hina itu di dalam tampuk pemerintahan adalah bagian dari bencana itu sendiri. Oleh karena itu, wajib secara syar’i untuk menggusur para penguasa tersebut; mengangkat seorang khalifah yang akan menerapkan hukum-hukum Allah dan menyatukan umat Islam, baik Arab maupun bukan Arab, berdasarkan Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya; memaklumkan jihad untuk membebaskan kaum Muslim berikut negeri-negeri mereka dan sumberdaya mereka dari tangan orang-orang kafir; mencabut Israel sampai ke akar-akarnya; serta mengemban risalah Islam ke seluruh dunia. Dengan begitu, kaum Muslim akan terlepas dari berbagai konferensi yang diselenggarakan oleh para antek Barat tersebut; dari upaya memecah-belah; dari institusi Yahudi; dan dari hegemoni negara-negara kafir imperialis.

Allah Swt. berfirman:

Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah pun akan menolong kalian dan mengokohkan kedudukan kalian (QS Muhammad [47]: 7).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: