Salah Kaprah Tentang Jihad dan Bughat

Setelah penolakan jawaban Presiden atas memorandum DPR oleh kalangan DPR, kondisi politik negeri ini semakin amburadul. Permusuhan tampak terlanjur mengeras. Ini diperparah dengan penggalangan massa pendukung masing-masing untuk mempertahankan kedudukannya dari goyangan pihak lain.

Salah satu upaya penggalangan massa untuk mendukung dan mempertahankan kedudukan Presiden Abdurrahman Wahid, PBNU akan mengeluarkan resolusi jihad jika forum ulama menetapkan penolakan DPR atas jawaban memorandum Presiden masuk kategori bughat (makar) (Media Indonesia,02/04/2001). Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj kepada pers di Malang, Sabtu (31/3), menjelaskan para ulama NU segera mengadakan pertemuan untuk menentukan sikap, apakah penolakan atas jawaban Presiden itu masuk kategori makar atau bukan. “Terus terang kalangan nahdliyin merasakan kegelisahan menyusul krisis yang tak pernah berakhir ini. Apabila dalam pertemuan tersebut dinyatakan sebagai bughat maka layak untuk diperangi. Namun terlalu dini untuk diungkapkan saat ini” tegas Said (ibid).

Rencana tersebut mendapatkan reaksi dari berbagai pihak. Ketua MPR Amien Rais juga menyesalkan langkah tersebut. Ia menegaskan penyalahgunaan ajaran agama merupakan tindakan pelecehan terhadap agama itu sendiri. Wakil Ketua MPR Husnie Thamrin menambahkan, apa yang dilakukan oleh kalangan NU adalah suatu tindakan bela diri. “Orang yang sudah terjepit akan mengambil cara apapun untuk menyelamatkan diri,” katanya (Media Indonesia, 03/04/2001).

Sebagai langkah praktis, para pendukung Presiden Wahid yang tergabung dalam Front Pembela Kebenaran (FPK) membuka pendaftaran bagi relawan jihad yang siap mati dalam mempertahankan Gus Dur. Para relawan yang mendaftar diharuskan mengisi surat pernyataan yang berisi tulisan, “Saya menyatakan siap mati syahid untuk membela Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam tugas menjaga tegaknya konstitusi demi persatuan bangsa dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).” (ibid).

Terlepas dari prokontra kedua kelompok tersebut, kita bertanya: Apa sebenarnya yang dimaksud dengan istilah bughat? Benarkah mempertahankan Gus Dur seraya memerangi sesama saudaranya yang muslim –tetapi bersebarangan secara politik– masuk kategori jihad? Tulisan ini menguraikannya dalam perspektif syari’at Islam.

Makna Jihad Secara Syr’aiJihad menurut bahasa (haqiqah al-lughawiyah) –sebagaimana dituturkan oleh Imam Naisaburi dalam kitab tafsirnya- adalah: “Mencurahkan seluruh tenaga untuk memperoleh maksud (yang dikehendaki).” (Dr. Muhammad Khoir Haikal, al-Jihad wa al-Qital fi as-Siyasati as-Syar’iyyah, ,jilid I/40). Definisi jihad menurut bahasa sangat umum, sehingga apapun usaha seseorang, dengan motivasi baik atau buruk sekalipun, bisa tergolong jihad –menurut pengertian bahasa.

Namun, Islam telah meletakkan kata jihad dengan pengertian syara’ (haqiqah as-syar’iyyah). Ratusan kata jihad tersebar di dalam al-Quran maupun as-Sunnah. Dan pelaksanaan aktivitas jihad memiliki metode dan cara-cara tersendiri yang telah diatur secara sempurna oleh ajaran Islam. Dari sinilah muncul pengertian bahwa kata jihad memiliki makna syar’iy. Pengertian jihad menurut syara adalah:

“Mencurahkan seluruh tenaga untuk berperang di jalan Allah, baik langsung maupun dengan cara membantunya dengan harta benda, pendapat, atau mendukung logistik (perbekalan), dan lain-lain.” (Ibnu ‘Abidin, Rad al-Muhtar, jilid III/336)Jika demikian halnya, maka mana pengertian jihad yang lebih layak digunakan oleh kaum muslimin? Untuk memperoleh jawabnya, cukuplah kita merujuk pada perspektif syariat Islam. Para ahli ushul fikih telah menyinggung kaedah: “Makna syar’iy lebih utama diambil berdasarkan pengertian syara, dari pada pengertian bahasa maupun ‘urf” (‘Atha bin Khalil, Taysir al-Wusul ila al-Ushul, hlm.296).

Oleh karena itu, istilah jihad lebih layak digunakan berdasarkan pengertian syara, bukan berdasarkan pengertian bahasa. Makna syara’ juga menegaskan bahwa jihad ditujukan untuk memerangi orang-orang kafir. Bukan memerangi orang-orang muslim. Seorang mujahid yang gugur di medan perang, tergolong syahid, yang mayatnya tidak perlu dimandikan dan dikafani. Cukup dishalatkan dan dikuburkan saja. Ini menunjukkan bahwa aktivitas jihad mempunyai implikasi yang luas dalam syariat Islam.

Dengan demikian setiap jihad itu berarti perang, akan tetapi tidak setiap peperangan itu masuk kategori jihad.

Peperangan yang masuk kategori jihad antara lain:

1. Perang melawan sekelompok orang-orang murtad, sebagaimana yang terjadi di masa Khalifah Abubakar Sidik ra.

2. Perang melawan kelompok pembegal, bajak laut dan sejenisnya yang para pelakunya terdiri dari kalangan orang-orang kafir –baik musta’min maupun ahlu dzimmah-, atau orang-orang murtad (Dr. Muhammad Khoir Haikal, op.cit.jilid I/74-75)

3. Perang melawan orang-orang kafir untuk mempertahankan jiwa, harta benda dan kehormatan. Para fukaha menyebutnya dengan istilah as-siyal. Hanya saja jika gugur mempertahankan jiwa, harta benda dan kehormatan (dalam kasus ini) tidak diperlakukan sebagaimana kasus jihad fi sabilillah. (Dr. Muhammad Khoir Haikal, op.cit. jilid I/87)

4. Perang melawan ahlu dzimmah –orang kafir yang tunduk dan hidup dalam negara Khilafah Islamiyah, dan dibiarkan memeluk agamanya berdasarkan akad dzimmah- yang memberontak kepada daulah Islamiyyah juga bagian dari jihad, sebab status mereka ketika melakukan peperangan terhadap Daulah Islamiyah berubah menjadi kafir harbi. Akad dzimmahnya menjadi gugur. (As-Syarbini, Mughni al-Muhtaj: Syarah al-Minhaj, jilid IV/259).

5. Perang ofensif untuk membuka daerah-daerah yang dikuasai oleh negara-negara kafir, yang biasa dikenal dengan istilah futuhaat Islamiyah, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dan para Khulafa setelahnya dengan menaklukkan Romawi, Persia, Mesir, Afrika Utara hingga ke Andalusia. Perang jenis ini masuk kategori jihad karena memenuhi syarat untuk menegakkan kalimat Allah, meskipun di dalamnya juga tercakup implikasi merampas harta benda musuh (ghanimah). (Al-Qarafi, al-Furuq, jilid III/23)

6. Perang untuk menyatukan negeri-negeri Islam. Ini dapat terjadi tatkala telah ada negara Khilafah Islamiyah, yang ingin menyatukan negeri-negeri Islam di bawah satu negara Islam—dimana negeri-negeri Islam saat ini terkotak-kotak ke dalam puluhan negara berdasarkan asas nasionalisme dan dibawah cengkeraman negara-negara kafir. Selama kaum muslimin memerangi orang-orang atau negara-negara kafir yang bersikeras mempertahankan negeri-negeri Islam supaya tetap berada di bawah cengkraman kekuasaan mereka, perang jenis ini masuk kategori jihad. Sebab perang untuk menyatukan negeri-negeri Islam adalah perang untuk menegakkan kalimat Allah. Kecuali yang diperangi itu adalah sesama kaum muslimin, atau ahlu dzimmah yang tidak kehilangan akad dzimmahnya, maka perang jenis ini tidak tergolong jihad. (Dr. Muhammad Khoir Haikal, op.cit, jilid I/366-367).

Berdasarkan uraian tadi, setiap peperangan –apapun alasannya- yang sasarannya adalah sesama kaum muslimin, tidak tergolong perang jihad.

Makna BughatYang dimaksud dengan bughat adalah sekelompok orang yang berkumpul dan memenuhi tiga aspek:

1. Menentang kekuasaan Negara, tidak mau menjalankan hak-haknya, tidak mau mentaati undang-undang maupun menjalankan keputusan-keputusan kepala negara.

2. Memiliki kekuatan yang memungkinkannya untuk menguasai (negara).

3. Memisahkan diri (Abdul Qadir Audah, at-Tasyri’ al-Jinaiy fi al-Madzaahibi al-Khamsah, jilid I/148-150 dalam Dr. Muhammad Khoir Haikal, op.cit, jilid I/64).

Makna dari memisahkan diri, mencakup aktivitas pemberontakan bersenjata, mengakibatkan perang saudara, atau memunculkan peperangan fisik di dalam negeri.

Tentu saja, perbincangan mengenai bughat ini dalam kerangka sistem pemerintahan Islam (Daulah Khilafah Islamiyah). Maka, amat absurd jika penggunaan istilah bughat dianalogkan terhadap pemerintahan yang jelas-jelas menerapkan sistem hukum kufur, meskipun negeri tersebut mayoritasnya adalah kaum muslimin. Karena yang dimaksud bughat itu adalah menentang kekuasaan negara Khilafah Islamiyah, yang menjalankan sistem hukum Islam secara total; memisahkan diri dari kesatuan dan ketaatannya terhadap Daulah Islamiyah; dan memiliki keinginan untuk mengambil alih kekuasaan secara paksa (fisik) dari Khalifah (kepala negara) yang sah.

Sebagaimana istilah jihad, kata bughat juga memiliki makna syar’iy. Dan itulah yang seharusnya digunakan oleh kaum muslimin, sehingga tidak dengan mudahnya menuduh kelompok lain itu sebagai bughat. Sebab istilah ini memiliki implikasi hukum Islam yang amat luas, selain memiliki tata cara tertentu untuk mengembalikan –lebih dahulu- para pengikut bughat ke dalam naungan Daulah Islamiyah.

Kemudian, apakah memerangi pengikut bughat dapat digolongkan ke dalam perang jihad? Jawabnya jelas TIDAK, karena beberapa alasan, antara lain :

1. Karena jihad adalah memerangi orang-orang kafir untuk menegakkan kalimat Allah. Sedangkan memerangi pengikut bughat adalah memerangi sesama kaum muslimin yang keluar dari ketaatan, peperangannya juga untuk memberi pelajaran (li at-ta-dib), dan mengembalikan mereka supaya taat (kepada Daulah Islamiyah).

2. Prajurit yang terbunuh dalam peperangan ini tidak dimasukkan dalam golongan syahid –yang memperoleh perlakuan khusus untuk penguburan mayatnya (Dr.Muhammad Khoir Haikal, op.cit, jilid I/66-67).

Atas dasar ini, maka pernyataan ketua PBNU, KH Said Aqil Siradj yang menganggap bahwa penolakan DPR atas memorandum Presiden –apabila disetujui dalam pertemuan ulama NU- masuk kategori bughat, maka berarti mereka layak diperangi, merupakan pernyataan yang amat keliru dan menggelikan. Sebab, konteks penggunaan istilah bughat hanyalah dapat dipakai dalam kerangka negara Islam (Daulah Khilafah Islamiyah) yang menerapkan sistem hukum Islam. Sementara itu, sistem pemerintahan dan sistem hukum negeri ini jelas-jelas tidak menjalankan sistem pemerintahan dan sistem hukum Islam secara total, juga tidak tergolong Daulah Khilafah Islamiyah.

Jadi, bagaimana mungkin sekelompok orang yang berselisih tentang suatu perkara dibawah naungan konstitusi sekuler, di bawah negara yang sistem hukumnya juga sekuler, dianalogkan seolah-olah berada di bawah konstitusi Islam dan di bawah sistem hukum Islam (Daulah Khilafah Islamiyah), lalu mencap orang-orang yang menentang kepala negaranya sebagai bughat?

Lebih menggelikan lagi jika dikeluarkan resolusi jihad. Sebab, dimana unsur untuk menegakkan kalimat Allah-nya? Bukankah, para relawannya nyata-nyata setuju untuk membela orang tertentu berlandaskan konstitusi sekular (bukan Islam)? Belum lagi sasarannya adalah sesama kaum muslimin, bukan orang atau negara kafir! Maka, dari mana argumentasi bahwa DPR yang menolak jawaban Presiden atas memorandum pertama digolongkan sebagai bughat? Bahkan siapa saja yang menjadi pengikut mereka bisa diperangi dengan perang jihad?

KhatimahOleh karena itu, seorang muslim harus menghindarkan diri dari perseteruan politik yang tidak sehat di negeri ini. Jika mereka terjerumus dalam peperangan melawan saudara mereka –sesama muslim, kematiannya adalah kematian yang konyol. Sungguh –lebih baik– jika mereka menyatukan langkahnya untuk berjuang menegakkan sistem pemerintahan dan sistem hukum Islam, serta melawan dan memerangi orang-orang kafir yang hasud dan membuat permusuhan terhadap kaum muslimin dan bukan mustahil merekalah yang ada di balik perseteruan sesama kaum muslimin dalam koridor sistem jahiliyah (Ingatlah peristiwa adu domba yang dilakukan oleh orang Yahudi terhadap kaum Anshar dengan menyanyikan lagu-lagu dan syair keusukuan pada perang Bu’ats).

Ingatlah wahai umat, peperangan sesama kalian dalam merebutkan sistem jahiliyyah adalah fatal semata. Sahabat Abi Bakrah ra meriwayatkan :

“Aku mendengar Rasulullah saw bersabda : ‘Apabila dua orang muslim bertemu dan keduanya menghunuskan pedang masing-masing, maka orang yang membunuh dan orang yang dibunuh, kedua-duanya akan dimasukkan ke dalam neraka.’ Tuturnya lagi –aku berkata atau Rasul ditanya- ‘Wahai Rasulullah, jika orang itu membunuh maka jelaslah dosanya, akan tetapi apa kesalahan orang yang dibunuh.’ Rasulullah menjawab : ‘Sesungguhnya dia juga bermaksud untuk membunuh saudaranya. (HR Bukhari Muslim-CD al-Bayan 1676).Wahai umat yang berpikir, siapkah kita saling membunuh di antara saudara kita sendiri?. Siapkah kita menerima murka Allah SWT? Kenapa kita justru tidak berjuang bersama menegakkan kalimatnya? Renungkanlah! Wallah muwaffiq ila aqwamit thariiq!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: