Fanatisme Kesukuan Awal Kehancuran Masyarakat

Tragedi Sampit yang menelan korban ratusan orang serta harta benda yang tak ternilai, ternyata bukan saja masih menyisakan persoalan-persoalan yang tidak sederhana, tetapi juga memicu ketegangan-ketegangan baru sejenis di daerah seputarnya. Itu terjadi di daerah perbatasan Kalteng dengan Kalsel, yaitu kabupaten Kapuas. Situasi keamanan di kota Kualakapuas, ibukota kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, hari Senin (19/3) makin memburuk. Sedikitnya dua rumah dibakar dan tujuh rumah milik warga dari etnis Madura di Kualakapuas dirusak massa. Sebagian besar etnis Madura telah mendapat perlindungan keamanan di Markas Polres Kapuas dan Polsek Kapuas Hilir (Kompas, 20/3/2001).

Berkaitan dengan situasi keamanan di Kualakapuas, menteri Koordinator Bidang Politik, Sosial dan Keamanan (Menko Polsoskam) Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta, Senin meminta aparat keamanan dalam hal ini Polri agar segera bertindak cepat melakukan pencegahan agar kerusuhan antar etnis di kota itu tidak meluas kemana-mana (ibid).

Sementara itu, untuk mengatasi dan mencari solusi terhadap berbagai konflik antar etnis yang muncul belakangan ini, Pemerintah Daerah Kalteng dengan mengajak serta tokoh-tokoh masyarakat Dayak akan mengadakan pertemuan dengan Pemerintah Daerah Jawa Timur yang membawa serta tokoh-tokoh etnis Madura, guna mencari jalan keluar terhadap persoalan tersebut. Pertemuan tersebut sedianya akan berlangsung di Bogor.

Apa sebenarnya akar permasalahan yang muncul sehingga konflik antar etnis selalu terjadi, serta bagaimana solusi ajaran Islam untuk mengatasi persoalan-persoalan semacam ini? Tulisan berikut ini mengajak kaum Muslimin untuk meninjau ulang ikatan-ikatan yang terbentuk antar suku bangsa di negeri ini, sekaligus mengkaji kembali bagaimana Rasulullah saw. memecahkan persoalan tersebut.

Ikatan-ikatan ManusiaManusia adalah makhluk sosial. Satu dengan yang lainnya saling membutuhkan. Agar tercipta kehidupan bersama yang harmonis, tidak memicu pertentangan dan permusuhan dibuatlah ikatan-ikatan, yang menjadi sebuah peraturan/konsensus yang harus ditaati oleh seluruh unsur masyarakat. Ikatan-ikatan tersebut bentuknya bermacam-macam, bisa berbentuk norma-norma, peraturan hukum, ideologi dan sejenisnya.

Salah satu dari berbagai macam ikatan itu adalah ikatan kesukuan. Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, ikatan kesukuan tumbuh di tengah-tengah masyarakat pada saat pemikiran manusia mulai sempit. Sebab munculnya ikatan kesukuan ini karena manusia itu, pada dasarnya memiliki naluri ingin mempertahankan diri (survive), lalu muncul pada dirinya keinginan untuk berkuasa. Keinginan ini muncul hanya pada individu yang rendah taraf pemikirannya (lihat An-Nabhani, Nizhomul Islam, hlm.21). Untuk meluaskan pengaruh kekuasaannya itu, tidak jarang berhadapan dengan suku-suku lain, sehingga menimbulkan pertentangan-pertentangan lokal antar suku. Kepentingan dan pembelaan berdasarkan golongan, termasuk suku bangsa, di dalam istilah Islam dikenal dengan nama ashabiyah atau ta’ashub.

Jadi, ikatan kesukuan merupakan ikatan yang rusak. Tidak layak dijadikan pengikat antar manusia, karena memiliki beberapa aspek:

  • Ikatan ini berdasarkan pada suku/keturunan etnis tertentu, sehingga tidak dapat dijadikan pengikat dalam sebuah masyarakat yang penduduknya heterogen. Apalagi jika masyarakat itu berbentuk sebuah peradaban besar yang mencakup berbagai suku, bangsa, ras, asal geografis dan sebagainya.
  • Ikatan ini bersifat emosional, selalu didasarkan pada perasaan yang muncul secara spontan dari naluri mempertahankan diri.
  • Ikatan ini juga tidak manusiawi, karena menimbulkan pertentangan dan perselisihan antar sesama manusia, terutama dalam berebut kekuasaan.

Dengan demikian, ikatan kesukuan harus dibasmi hingga keakar-akarnya, karena hanya memunculkan pertentangan dan perselisihan dengan suku-suku lainnya. Disamping itu, ikatan kesukuan hanya mengurung akal manusia dalam pemikiran yang picik dan sempit.

Rasulullah Membasmi Syi’ar Jahiliyah

Rasulullah saw. lahir di tengah-tengah masyarakat yang perbedaan, pertentangan dan permusuhan antar suku/kabilahnya amat kental. Hanya karena persoalan sepele, atau salah seorang anggota sukunya dihina, pertempuran antar suku bisa terjadi. Banyaknya kabilah/suku juga sangat besar. Itu terlihat dari banyaknya berhala yang digantungkan di atas Ka’bah. Masing-masing suku memiliki sebuah berhala yang diagung-agungkan dan disembah oleh mereka.

Dinul Islam, muncul untuk merobohkan ikatan-ikatan semacam itu, membersihkannya, kemudian membangunnya dengan akidah Islam dan mabda (ideologi) Islam yang satu, pemimpin yang satu, negara yang satu, syariat (sistem hukum) yang satu.

Oleh karena itu, musuh-musuh umat Islam dimasa Rasulullah saw saat itu –yakni orang-orang Yahudi yang tinggal di kota Madinah berupaya untuk memecah belah persatuan dan kesatuan kaum Muslimin, dengan mengungkit-ungkit kembali suku Aus dan suku Khazraj yang telah dipersaudarakan dan disatukan oleh Islam. Orang-orang Yahudi mengungkit-ungkit mereka tentang perang Bu’ats, yaitu peperangan yang pernah terjadi diantara kedua suku tersebut, dimana suku Aus menjadi pemenang dari perang mereka yang terakhir. Sya’ir-sya’irpun dibacakan untuk memperkeruh suasana. Akibatnya kaum Muslimin yang berasal dari suku Aus dan Khazrajpun terpancing dan hampir-hampir perang baru meletus. Berita ini sampai kepada Rasulullah saw, lalu beliau mengumpulkan mereka seraya bersabda:

“Wahai kaum Muslimin, ingatlah Allah, ingatlah Allah. Apakah kalian akan bertindak seperti para penyembah berhala saat aku hadir di tengah kalian, dan Allah telah menunjuki kalian dengan Islam; yang karena itulah kalian menjadi mulia dan menjauhkan diri dari paganisme, menjauhkan kalian dari kekufuran dan menjadikan kalian bersaudara karenanya?”Beliau menyamakan orang-orang yang mengungkit-ungkit dan mempropagandakan ashabiyah (fanatisme golongan/kelompok/suku/bangsa/ras) dengan sebutan ‘apakah kalian akan bertindak seperti para penyembah berhala ?’

Lebih dari itu dalam sebuah hadits yang berasal dari Abu Musa al’Asy’ari, beliau bersabda:

“Orang Arab tidaklah lebih baik dari orang non Arab (‘ajam). Sebaliknya, orang non Arab juga tidak lebih baik dari orang Arab. Orang berkulit merah tidak lebih baik dari orang berkulit hitam, kecuali karena ketakwaannya. Umat manusia adalah anak cucu Adam, dan Adam diciptakan dari tanah liat.” (HR. Bukhari dan Muslim)Kecaman Islam terhadap para penganut paham sukuisme, fanatisme golongan dan sejenisnya amat keras, sampai-sampai Rasulullah saw juga bersabda:

“Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyerukan ashabiyah, orang yang berperang karena ashabiyah, serta orang-orang yang mati karena membela ashabiyah.” (HR. Abu Dawud)Artinya, kaum Muslimin yang terlibat dalam fanatisme golongan/kesukuan (ashabiyah), dianggap ‘bukan dari golongan kami’, yaitu bukan termasuk kaum Muslimin. Seruannya, pembelaannya, bahkan pertarungannya membela golongan/kelompok/suku hanyalah perbuatan sia-sia dan hina!

Dalam hadits-hadits lain, kecaman Islam terhadap penganut ashabiyah lebih ‘seram’, sehingga Rasulullah mencapnya seperti ‘bahan bakar api neraka’, ‘lebih rendah dari cacing tanah’, ‘lebih baik menggigit kemaluan bapaknya’. Semua itu menunjukkan perbuatan hina dan menjijikkan, dan jelas-jelas berdosa. Di depan Islam, derajat mereka lebih rendah dari binatang, malah lebih rendah dari cacing tanah!

Ikatan Akidah dan UkhuwahIslam memecahkan persoalan heterogenitas masyarakat dengan mengembalikan mereka kepada ikatan Allah SWT, yaitu ikatan berdasarkan akidah Islam. Aspek-aspek yang diikat oleh Islam terhadap siapa saja yang mengakui kebenaran ajaran Islam dan temasuk dalam golongan kaum Muslimin, antara lain:

Islam mewajibkan kaum Mukmin untuk menjadikan Allah SWT, diatas segala-galanya. Hukum Allah (yang terdapat dalam Al Quran dan Sunnah Nabi-Nya) sebagai rujukan. Firman Allah SWT :

“Katakanlah, ‘jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai adalah lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At Taubah [9]: 24) “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta Ulil Amri diantara kalian. Kemudian, jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (As Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa [4]: 59)Islam tidak mengenal ikatan apapun, selain ikatan iman dan ukhuwah Islamiyah, untuk seluruh kaum Muslimin. Ikatan ini berarti hanya menjadikan akidah Islam, mabda (ideologi) Islam, sebagai satu-satunya pengikat antar kaum Muslimin. Ikatan-ikatan lainnya seperti ikatan kelompok, golongan, suku, keluarga, bangsa/nasionalisme, dan sejenisnya masuk dalam kategori ikatan-ikatan yang mempropagandakan syi’ar-syi’ar Jahiliyah. Seruan terhadap ikatan-ikatan tersebut sama artinya kita kembali ke jaman Jahiliyah, jaman paganisme, jaman penyembahan terhadap berhala. Ikatan keluarga tidak ada artinya apabila di antara anggota keluarga terdapat orang-orang yang bersebarangan akidahnya dengan kaum Muslimin. Bapak dan anak, suami dan isteri, begitu pula kakak dan adik kandung tidak ada artinya di sisi Allah jika salah satu di antara mereka kafir. Firman Allah SWT :

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya; sekalipun orang-orang itu adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka.” (QS. Al Mujadalah [58]: 22)Fenomena apa gerangan yang bisa menjelaskan pertarungan antara sahabat Rasulullah saw, yakni Abu Ubaidah bin Jarrah dengan bapaknya sendiri yang kafir dalam perang Badar? Allah SWT telah mempersaudarakan orang-orang beriman, sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah saudara.” (QS. Al Hujurat [49]: 10)Hal ini mengharuskan seorang muslim dengan muslim lainnya tanpa mempedulikan lagi asal, golongan, ras, suku dan lain-lain itu bersaudara, saling membela, dan mengasihi satu dengan lainnya.

Islam juga mengharuskan kaum Muslimin memiliki satu orang kepala negara (Khalifah) dan hanya satu negara saja atas seluruh negeri-negeri kaum Muslimin. Sebab, akidah mereka satu, Kitab mereka juga satu, sistem hukum Islam yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya juga sama. Atas dasar apa kaum Muslimin berpecah belah dan saling bermusuh-musuhan, dipisahkan oleh sekat-sekat perbatasan yang imaginer yang diciptakan oleh musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin- dan tidak mempedulikan kondisi saudaranya kaum Muslimin di tempat-tempat atau negeri-negeri lainnya? Sabda Rasulullah saw:

“Jika datang seseorang, sementara urusan kalian berada pada seseorang (Khalifah/Kepala Negara), hendak memisahkan kalian atau memecah belah jamaah kalian, maka bunuhlah (orang itu).” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’I) KhatimahDengan demikian, ikatan yang mampu menjalin keberagaman masyarakat, yang di dalam sejarah umat manusia mampu menyatukan suku-suku, ras, kelompok, bangsa-bangsa, dari semenanjung Andalus di daratan Eropa hingga Kepulauan Nusantara, dari pegunungan Kaukasus hingga pedalaman hutan Afrika, hanyalah ikatan akidah dan ukhuwah Islam, menjadikan Islam sebagai mabda (ideologi). Selain ikatan Islam, tidak akan behasil menjalin heterogenitas masyarakat, betapapun keras upaya untuk menyatukannya. Ikatan ini terbukti mampu bertahan selama lebih dari 13 abad sampai institusi yang menyatukan masyarakat Islam runtuh, yaitu hancurnya negara Khilafah Islamiyah di Istambul Turki.

Sejak saat itu umat terpecah belah, terkerat-kerat oleh sistem hukum yang dibuatnya sendiri, terkotak-kotak oleh kepentingan politik, dan diperdaya oleh negara-negara Barat yang kafir. Sungguh mengenaskan kondisi kaum Muslimin saat ini. Maka, apabila umat hendak bangkit, bersatu dan kembali memimpin dunia di bawah institusi politik yang satu yakni negara Khilafah Islamiyah, singsingkan lengan baju, dan marilah bergabung dalam barisan orang-orang yang mernyerukan:

“Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai. Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kalian dahulu (masa Jahilyah) bermusuh-musuhan hingga Allah mempersatukan hati kalian, lalu jadilah kalian karena nikmat Allah itu orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran [3]: 103)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: