Mewaspadai Manuver Amerika Serikat

Kondisi negara, pemerintahan dan masyarakat sedang gawat-gawatnya. Tengok saja perseteruan antara institusi eksekutif dengan legislatif yang tak kunjung selesai, bahkan memanas. Pemerintahan tidak berjalan secara professional dan efisien. Slogan-slogan good governance yang tahun lalu mewabah lambat laun sirna, karena hal itu hanyalah mimpi di siang bolong. Pertikaian antar etnis belakangan ini muncul lagi, menebar ketidak amanan dan ketidaknyamanan kepada masyarakat. Bahaya disintegrasi sudah mulai nampak. Masyarakat pun hidup kian tercekik dengan makin liarnya bola ekonomi. Ujung-ujungnya timbul kekhawatiran bahwa negara dalam keadaan genting.

Di tengah-tengah kondisi yang sedemikian runyamnya, para pejabat negeri ini dikejutkan dengan tajuk rencana koran Washington Post edisi akhir pekan pada minggu pertama bulan Maret lalu, yang berjudul menghakimi Indonesia. Harian itu menulis pemerintah AS menimbang-nimbang gagasan untuk mendukung militer Indonesia mengambil alih kekuasaan demi menyelamatkan Indonesia dari perpecahan. Washington Post juga menulis untuk menyelamatkan Indonesia, AS bisa berpaling ke TNI, karena militer dianggap bisa memulihkan ketertiban dan menjaga negara kesatuan RI (Republika, 08/03/2001). Presiden AS George W Bush dilaporkan terganggu dengan munculnya kekerasan etnis di Indonesia dan kegagalan pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid mengambil tindakan tegas dan cepat untuk mencegah meluasnya tragedi kemanusiaan itu (ibidem).

Meskipun masih sebatas gagasan –menurut Washington Post- tak urung tajuk rencana itu memancing berbagai komentar dari para petinggi Indonesia. Ketua DPR, Akbar Tandjung mengatakan bahwa keinginan AS itu harus dicermati sebagai peringatan pada pemerintah Abdurahman Wahid untuk meningkatkan kinerja bagi terciptanya keamanan. “Jangan biarkan orang lain ikut campur tangan. Mereka memang punya kepentingan dengan Indonesia,” katanya (Republika, 08/03/2001).

Di kalangan TNI sendiri, Panglima TNI Laksamana Widodo AS mengatakan bahwa TNI dalam mengatasi kompleksitas permasalahan yang dihadapi Indonesia tetap mengacu pada prinsip ‘melakukan yang terbaik bagi bangsa dan negara’ namun harus secara konstitusional. “TNI akan berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara. Apapun yang dilakukan TNI, akan selalu berada di koridor konstitusi dan Undang-undang,” katanya menanggapi pertanyaan wartawan seusai Rakor Polsoskam, di Jakarta, Rabu (ibidem).

Bagaimana sebenarnya kita harus mensikapi negara-negara besar seperti AS, yang pernyatan-pernyataannya ‘tidak beradab’, apalagi ditujukan kepada negeri yang sedang dirundung permasalahan yang amat berat? Dan ada apa dengan manuver AS itu?

Ada Udang di Balik BatuMelalui pengkajian yang terus menerus dan cermat terhadap berbagai tindak tanduk AS di seluruh dunia akan dijumpai bahwa manuver-manuver politik negara adidaya ini selalu bertumpu pada dua prinsip utama :

Pertama, dalam rangka melindungi dan mempertahankan Amerika dari setiap bahaya yang mengancam eksistensi maupun kepentingan-kepentingan AS di seluruh dunia.Kedua, Untuk mencapai kepentingan-kepentingan AS dan dalam rangka menjaga eksistensinya, AS tidak akan segan-segan mengeksploitasi negeri-negeri lain.

Dua prinsip ini yang menjadi standar berbagai manuver politik AS di luar negeri. Dua prinsip ini tidak akan berubah, dan politik luar negeri AS tidak mungkin tegak kecuali mengacu kepada dua prinsip tersebut.

Oleh karena itu, pernyataan pemerintah AS yang dilansir dalam tajuk rencana harian Washington Post mencerminkan dengan amat jelas dua prinsip tadi. Bagi AS, tidak peduli, apakah pemerintahan di suatu negeri itu sipil atau militer, yang penting kepentingan-kepentingan AS yang ada di negeri itu tidak terganggu.

Dan sebagaimana kita ketahui, bahwa AS memiliki kepentingan ekonomi yang sangat besar di Indonesia. Puluhan perusahaan-perusahaan raksasa Amerika selama puluhan tahun telah menanamkan modalnya dalam bidang keuangan/perbankan, pertambangan, minyak dan gas. Tentu saja AS tidak ingin ‘pengorbanannya’ itu sia-sia hanya karena kondisi keamanan, politik, dan sosial yang terjadi di negeri ini. Belum lagi posisi Indonesia dilihat dari segi geopolitik yang amat mempengaruhi kawasan regional (Asia Tenggara). Jadi AS, memang merasa terganggu dengan kondisi yang tidak menentu di Indonesia. Paling tidak yang menyangkut kepentingan ekonomi dan politik AS di kawasan Asia Tenggara.

al Quranul Karim telah memperingatkan kaum muslimin terhadap upaya-upaya yang pasti dilakukan oleh kaum kafir –termasuk AS- untuk merubah akidah dan pemikiran kaum muslimin, serta mengeksploitasi sumber-sumber ekonomi yang ada di negeri-negeri kaum muslimin. Firman Allah SWT :

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.” (QS. Al Anfaal [8]: 36) “Mereka (orang-orang kafir itu) tidak henti-hentinya memerangi kamu (kaum muslimin) sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (QS. Al Baqarah [2]: 217)Berdasarkan hal ini, maka sikap kaum muslimin menghadapi tindak-tanduk kaum kafir –dalam hal ini negara-negara adidaya seperti AS dan sekutunya- memposisikan mereka sebagai musuh, yang harus selalu diwaspadai. Sebab Allah SWT, Yang Maha Tahu, menyampaikan kepada kita bahwa orang-orang kafir itu tidak akan berhenti menghalang-halangi kaum muslimin yang ingin kembali kepada ajaran Islam dan kepada penerapan sistem hukum Islam.

Mereka –orang-orang kafir- rela mengorbankan apa saja yang dimilikinya, termasuk harta kekayaannya untuk mencapai tujuan-tujuan mereka yang paling mendasar, yaitu menghapus sama sekali dari benak kaum muslimin gambaran tentang pelaksanaan sistem hukum Islam, membersihkan sama sekali informasi dan pengetahuan, serta semangat kaum muslimin tentang Dinul Islam. Kemudian menggantinya dengan ideologi dan keyakinan yang lain, yang bertentangan dengan akidah Islam. Merubah loyalitas kaum muslimin dari semangatnya kepada ajaran Islam menjadi loyal terhadap simbol-simbol peradaban Barat yang nyata-nyata telah menghancurkan masyarakat mereka sendiri.

Imperialisme AS, Menggunakan Segala CaraPolitik imperialisme AS amat nyata terlihat, meskipun mereka tutup-tutupi seakan-akan mereka adalah negara ‘baik hati’. Hal itu tampak pada proses secara bertahap dan kontinyu yang dilakukan AS terhadap Indonesia, yaitu dengan beberapa langkah:

Pertama, AS mendorong rakyat Indonesia untuk melakukan penentangan terhadap penjajah Belanda, sehingga terjadi pemberontakan dan penentangan dimana-mana. Di satu sisi, Inggris -yang bersaing dengan AS dalam menancapkan pengaruhnya di kawasan ini- membantu Belanda memadamkan berbagai perlawanan bersenjata masyarakat Indonesia.Belanda juga memanfaatkan keberadaan pasukan Inggris yang terjun ke Indonesia –melalui NICA- untuk menyusup dan menduduki kembali sebagian wilayah Indonesia. Pergolakan militer tersebut kemudian berlanjut. Dan kasusnya dibawa ke PBB, yang saat itu sudah dikendalikan oleh AS.

Kedua, melalui PBB, yang dikendalikan AS, dan AS amat getol memainkan peranan penting dalam diplomasi dan tekanan politik internasional yang berujung pada pengakuan dunia internasional terhadap kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian praktis Belanda terusir secara militer dan politik dari bumi Nusantara. Kedudukan Belanda inilah yang kemudian digantikan oleh AS, yang memiliki strategi lebih jahat untuk mengekspolitasi sumber alam yang amat kaya, serta kawasan yang amat strategis dalam rangka memelihara dan menjaga eksistensi dan kepentingan AS di luar negeri. Berbagai upaya Belanda yang didukung Inggris untuk masuk kembali ke Indonesia menemui kegagalan.Berbagai perjanjian yang difasilitasi oleh AS mengatasnamakan mandat PBB merupakan gambaran kerasnya upaya Inggris yang bersaing dengan AS untuk menggantikan posisi Belanda. Perjanjian Linggarjati (Nopember 1946), agresi militer I (1947) yang diakhiri dengan perjanjian Renville (1948) sampai Konferensi Meja Bundar, hanyalah fenomena-fenomena perseteruan tingkat tinggi yang muncul ke permukaan.

Ketiga, hengkangnya Belanda, bukan berarti AS dengan mudah bisa menancapkan pengaruhnya begitu saja atas Indonesia. Rusia, China, juga Inggris memainkan peranan aktif untuk menguasai juga peta perpolitikan negeri ini. AS-lah yang mendorong masuknya imigran-imigran china –pada periode ini- dan juga membiarkan masuknya ideologi Sosialisme, dengan tujuan agar muncul berbagai krisis dan problematika yang terus menerus, serta ada alasan bagi AS untuk masuk dengan lebih mudah ke wilayah Indonesia. Keempat, krisis besar yang melanda Indonesia pasca kemerdekaannya muncul melalui kekacauan ideologi dengan maraknya paham Sosialisme – Komunisme. Klimaksnya, Soekarno yang cenderung kepada Rusia dan China, serta anti Barat (maksudnya adalah anti AS) tumbang, digantikan oleh Soeharto yang pro Barat, anti Komunis-Sosialis, dan phobi terhadap Islam. Bagi AS, agenda berikutnya adalah menghabisi simbol-simbol dan gerakan Islam pada periode Soeharto.Sejak saat itu, AS praktis bermain sendirian dalam peta perpolitikan di Indonesia. Setiap keputusan politik penting mesti diketahui dan direstui oleh AS. AS hanya akan mengganti penguasa-penguasa tersebut apabila kepentingan-kepentingan politik dan ekonominya di Indonesia terganggu. Maka dari itu, tidaklah mengherankan pernyataan pemerintah AS yang mendukung TNI untuk mengambil alih pemerintahan saat ini, dengan dalih untuk menjaga keamanan dan ketertiban.

Wajar pula jika Presiden AS George W Bush merasa terganggu dengan munculnya kekacauan di Indonesia, karena itu berarti aset-aset ekonomi AS yang ada di Indonesia juga terancam. AS lebih suka pemerintahan yang stabil dan mampu menjaga keamanan dan ketertiban, agar skenario AS di negeri ini berjalan lancar, meskipun penguasa negeri ini –misalnya- dari kalangan militer.

Dan menurut www asiawise.com edisi minggu lalu, pemerintah AS mulai menarik dukungannya pada Gus Dur. Hal ini bisa dipahami karena pemerintahan Gus Dur tidak mampu menjamin terpeliharanya aset-aset ekonomi dan politik AS di Indonesia. Kejatuhan Gus Dur tinggal menunggu waktu. Dan kita bisa memastikan bahwa penggantinya adalah juga orang yang mampu menjamin kepentingan-kepentingan AS di Indonesia, serta loyal kepada negara Paman Sam tersebut.

Kecuali umat bersedia dan siap mengganti seluruh sistem pemerintahan dan masyarakat dengan sistem hukum, peradilan, ekonomi, pendidikan, militer, sosial, politik dalam dan luar negeri yang merujuk kepada akidah dan syariat Islam. Jika tidak, maka skenario AS-lah yang akan terjadi. Inilah tahap-tahap imperialis AS untuk menguasai Indonesia.

KhatimahBagi kaum muslimin wajib mengetahui dan memahami prinsip-prinsip politik luar negeri negara-negara adidaya yang seluruhnya kafir itu, agar kita tidak menjadi bulan-bulanan dan sapi perahan negara-negara besar. Disamping itu, agar umat menyadari kekeliruan-kekeliruan yang pernah dilakukan para penguasanya di masa lampau, sekaligus bagaimana menghadapi negara-negara imperialis seperti AS, Inggris, Perancis, Rusia, China dan sekutu-sekutunya.

Dengan demikian, umat bisa bangkit dan memimpin dunia dengan ideologi (akidah) Islam, sebagaimana yang pernah dilalui di dalam sejarah umat manusia pada masa ke-Khilafahan Islam. Masalahnya adalah, apakah umat mau mempelajari dan memahami sejarahnya pada masa lampau, bangkit dan berjuang untuk meraih kemuliaan hidup sebagai kaum mukminin yang patuh menjalankan seluruh sistem hukum Islam. Menjadikan Islam sebagai mabda (ideologi/prinsip) yang dipegang teguh dan diterapkan secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Atau, umat tetap tidak peduli dengan kondisi yang amburadul ini, yang berujung pada kehinaan di dunia dan dihina oleh bangsa-bangsa lain yang kafir, padahal Allah SWT telah memperingatkan permusuhan yang amat sangat dalam diri orang-orang kafir, tak terkecuali negara-negara kafir. Firman Allah SWT:

“Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi.” (QS. Ali Imran [3]: 118)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: