Pilar-Pilar Negara Sudah Runtuh

Derita rakyat negeri ini seolah tiada akhir. Belum habis berbagai konflik dan kerusuhan di sejumlah daerah,kerusuhan antar etnis kini menimpa etnis Madura yang mendiami kawasan Sampit hingga ke ibukota Propinsi Kalimantan Tengah, Palangkaraya. Pembakaran, perusakan, pengejaran dan pembantaian sadis yang dilakukan etnis Dayak terhadap etnis Madura yang telah hidup puluhan tahun bersama mereka, menjadi pemandangan biasa sepanjang jalan antara Sampit Palangkaraya. Hari Minggu (25/2) petang, 118 warga Madura tewas secara mengenaskan di dekat Kantor Camat Parenggean, sekitar 110 kilometer dari Sampit ke arah Palangkaraya (Kompas, 27/02/2001). Kabar terakhir menyebut 321 orang tewas dibunuh, 316 rumah dibakar, 197 rumah dirusak, dan sekitar 175.000 orang mengungsi (Republika, 28/02/2001).

Sangat disayangkan, penanganan pemerintah dalam mencegah konflik etnis dan amuk massa terkesan kurang serius. Pemerintah tampaknya tak memiliki formula yang tepat untuk mengatasi hal itu sehingga terkesan ragu-ragu. Belum lagi aparatnya yang sering salah paham, bahkan terjadi baku tembak. Sementara itu, kepala negaranya lebih senang cuci tangan dengan jalan-jalan keluar negeri.

Bagaimana sesungguhnya upaya ajaran Islam untuk mengatasi berbagai problema yang menimpa masyarakat, terutama disintegrasi yang sudah nampak di depan mata, untuk mencegah runtuhnya pilar-pilar sebuah peradaban ?

Sistem Islam dan PenjagaannyaIslam mencakup aqidah dan syariat (sistem hukum) yang lengkap, adil dan sempurna. Oleh karena itu, sistem hukum Islam amat memperhatikan pilar-pilar penting yang mampu memelihara eksistensi sebuah masyarakat, eksistensi sebuah negara yang kuat dan utuh, eksistensi manusia sebagai makhluk yang mulia. Apabila unsur-unsur yang mampu memelihara berbagai eksistensi penting itu runtuh, atau tidak mampu menahan laju kerusakannya, maka eksistensi masyarakat akan hancur, tidak berbeda jauh seperti masyarakat binatang. Eksisitensi negara yang utuh dan kuat akan porak poranda, layaknya sobekan kertas yang berhamburan ditiup angin. Dan eksistensi manusia selaku makhluk ciptaanNya yang paling baik pun akan hilang berganti dengan sifat-sifat iblis atau khewan yang amat rendah.Untuk itu sistem hukum Islam mengenal perangkat-perangkat hukum yang dengan tegas harus dijaga dan harus diberlakukan, tanpa kecuali. Sebab jika salah satu dari beberapa unsur pemelihara itu runtuh, sama artinya dengan membiarkan salah satu pilar negara dan masyarakat hancur.Pilar-pilar yang mampu menjaga eksistensi masyarakat, dan negara tersebut adalah :

Pertama, penjagaan hukum Islam atas keturunan (al-Muhafadhotu ‘ala an-Nasl). Islam telah memberikan seperangkat hukum untuk memelihara perkara ini, seperti pengharaman zina, sanksi dera dan atau rajam bagi pelakunya. Hal ini untuk menjaga kemurnian dan kejelasan nasab (garis keturunan) agar kedudukan manusia tetap terhormat.Kedua, penjagaan hukum Islam atas akal (al-Muhafadhotu ‘ala al-‘Aql). Islam telah memberikan seperangkat hukum untuk memelihara perkara ini, seperti pengharaman khamer dan atau sesuatu yang memberikan mudharat terhadap akal, sanksi dera 40 kali dan atau 80 kali bagi peminum khamer. Hal ini untuk menjaga kerjernihan akal sebagai sandaran taklif (beban) hukum.Ketiga, Penjagaan hukum Islam atas kehormatan (al-Muhafadhotu ‘ala al-Karomah). Islam telah memberikan seperangkat hukum untuk memelihara perkara ini, seperti diharamkannya mengungkit-ungkit serta mengekspose ‘aib seseorang, larangan memata-matai, menggunjing dsb, pemberian sanksi bagi pelaku qadzaf (penuduh zina yang tak mampu menghadirkan 4 orang saksi) dengan 80 kali deraan.Keempat, penjagaan hukum Islam atas jiwa manusia (al-Muhafadhotu ‘ala an-Nafs). Islam telah memberikan seperangkat hukum untuk memelihara perkara ini, seperti hukum qishash (balasan setimpal) bagi pelaku pembunuhan yang disengaja dan tanpa hak.Kelima, penjagaan hukum Islam atas harta (al-Muhafadhotu ‘ala al-Mal). Islam telah memberikan seperangkat hukum untuk memelihara perkara ini, seperti hukum potong tangan bagi pencuri.Keenam, penjagaan hukum Islam atas aqidah/agama (al-Muhafadhotu ‘ala ad-Din). Islam telah memberikan seperangkat hukum untuk memelihara perkara ini, seperti haramnya murtad (keluar dari agama Islam), serta sanksi bagi pelaku murtad berupa hukuman mati.Ketujuh, penjagaan hukum Islam atas keamanan (al-Muhafadhotu ‘ala al-Amn). Islam telah memberikan seperangkat hukum untuk memelihara perkara ini, dengan sikap tegasnya bagi para pelaku kerusuhan (hirabah), pembegal secara berkelompok dengan sanksi berupa disalib dan dihukum mati bagi para pelakunya (yang membunuh, membakar dan terlibat dalam kerusuhan/pembegalan).Kedelapan, penjagaan hukum Islam atas keutuhan negara (al-Muhafadhotu ‘ala ad-Daulah). Islam telah memberikan seperangkat hukum untuk memelihara perkara ini, dengan kewajiban taat dari rakyat kepada para penguasa muslim yang menjalankan dan menerapkan system hukum Islam. Larangan bersikap bughot (membangkang), dan sanksi berupa diperangi bagi siapa saja yang membangkang dan melakukan perlawanan bersenjata untuk memecah belah atau memisahkan diri dari kesatuan Daulah Islam (lihat Muhammad Hussain Abdullah, Dirasaatun fil fikri al-Islami, hal 44-45)

Pilar-pilar tersebut termaktub di dalam nash (Al Quran) dan as Sunnah, dimana Allah SWT sendirilah yang telah menentukan batasan-batasan pilar tersebut. Dia pulalah yang memberikan sanksi-sanksi hukum bagi para pelakunya. Inilah yang dikenal dalam sistem hukum Islam sebagai hukum hudud, yaitu sistem hukum yang definisi aktivitas kejahatannya serta sanksi-sanksi atas para pelakunya, Allah sendiri yang menentukan, tidak diserahkan kepada qadli (hakim). Manusia (dalam hal ini para qadli/hakim peradilan) tidak diperbolehkan melakukan ijtihad lagi selain tunduk dan menjalankan sanksi hukum tersebut bagi para pelanggarnya.

Orang yang memiliki akal yang jernih akan dapat melihat, bahwa kedelapan pilar tersebut di atas adalah perkara-perkara yang menjadi kerangka dasar berdirinya sebuah masyarakat dan negara yang kuat. Apabila salah satu atau beberapa, atau bahkan seluruh pilar-pilar tadi sudah runtuh, maka lenyapnya eksistensi masyarakat dan negara tersebut tinggal menunggu waktu saja.

Aqidah Islam sebagai pemersatu

Tatkala Islam lahir, semenanjung Arab dipenuhi dengan perseteruan antar etnis yang amat kental. Demikian pula dunia saat itu ditingkahi dengan perseteruan antar kelompok, antar suku bangsa, dan antar negara-negara besar yang didominasi oleh suku bangsa tertentu. Namun, dengan kekuatan Islam sebagai sebuah mabda (prinsip ideologi), Rasulullah saw berhasil mengatasi sektarianisme yang saat itu amat sulit dihilangkan. Beliau berhasil menyatukan seluruh kabilah yang ada di semenanjung Arab. Lebih dari itu ajaran Islam berhasil melebur dan menyatukan bangsa-bangsa lain yang sebelumnya bersikap memushuhi dan memerangi kaum Muslim. Kebangsaan atas dasar keturunan dan warna kulit diganti dengan kebangsaan (kaum) atas dasar ikatan ukhuwah islamiyyah.

Apakah kita tidak pernah menyimak bagaimana orang-orang Moor di Afrika Utara yang dianggap –saat itu- amat liar, tunduk dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan kaum Muslim, serta turut serta menjadi pasukan-pasukan militer kaum Muslim yang membebaskan daratan Eropa. Orang-orang Tartar yang menyerang Baghdad –selaku pusat kekuasaan Khilafah Abbasiyah- pada akhirnya malah tunduk dan melebur dengan peradaban kaum Muslim dan menjadi bagian dari generasi-generasi kaum Muslim. Belum lagi bangsa-bangsa Mesir, Irak, Turki, Iran, Pakistan, Afghanistan, India, Kaukasia, dan lain-lain termasuk bangsa Melayu (Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan sebagian Philipina). Semuanya berhasil melebur dengan ajaran Islam. Mereka bersedia menanggalkan kebiasaan-kebiasaannya, bahasanya, adat istiadatnya serta berbagai pemikirannya yang bertentangan dengan aqidah dan syariat Islam.

Selama lebih dari 1000 tahun peradaban Islam berhasil menyatukan mereka di bawah panji-panji Laa ilaaha illa Allah, hingga datangnya pemikiran-pemikiran kufur seperti nasionalisme dan kesukuan yang disusupkan dan ditumbuhsuburkan kembali oleh para Imperialis Barat pada masa penjajahan dahulu, yang berhasil memecah belah kaum Muslim, melemahkannya dan menghancurkan Daulah Islam.

Sebagai ajaran yang sempurna, Islam telah memberikan elemen-elemen penting yang harus dimiliki oleh sebuah masyarakat, sebuah negara dan sebuah perdaban. Antara lain adanya mabda (prinsip ideologi) yang dijadikan nilai kebenaran dan tolok ukur yang tidak akan berubah dengan berjalannya waktu. Ideologi ini yang menjadi standard seluruh etnis yang hidup di tengah-tengah masyarakat Muslim. Sebab yang dimaksud dengan mabda itu mencakup fikroh (ide-ide dasar) dan thariqah (metodologi praktis) untuk mengatasi problematika hidup manusia, menjelaskan bagaimana cara pemecahannya, menjaga fikroh itu sendiri dan bagaimana mengembangkan mabda tadi ke seluruh dunia.

Inilah yang menjadi pengikat antar kaum Muslim, siapapun ia, suku bangsa apapun, dimanapun berada dan berasal dari ras manapun. Semuanya tidak menjadi soal, selama mereka mengusung dan menjadikan Islam (sebagai sebuah mabda) sebagai tolok ukurnya yang tidak bisa ditawar-tawar.

Jika sebuah masyarakat atau sebuah negara tidak memiliki ideologi yang mampu mengatur secara rinci dan benar segala problema kehidupan masyarakatnya, dijadikan tolok ukur bagi seluruh warganya, disebarluaskan ke seluruh dunia agar umat manusia menjadi bagiannya- maka kehancuran masyarakat dan negara itu tinggal menunggu waktu.

Ketegasan dalam Pelaksanaan HukumApabila sebuah negara dan masyarakat telah memiliki ideolgi yang kuat dan sempurna, serta memiliki pilar-ilar yang menjadi dasar terpeliharanya bangunan masyarakat tersebut, maka perkara lainnya tinggal konsisten dan secara tegas menjadikan ideolgi serta pilar-pilar tadi menghunjam dan berjalan dengan sempurna.Peradaban Islam pada masa lalu, mampu hidup lebih dari 1000 tahun karena keberhasilannya memegang teguh Islam sebagai sebuah mabda, dan ketegasan para penguasanya untuk menjaga kedelapan pilar yang mampu menjaga eksistensi masyarakat, negara dan kehormatannya sebagai manusia.Khalifah Abubakar Shiddiq ra, bersikap tegas dengan memerangi kabilah-kabilah yang tidak mau membayar zakat –meskipun sebagian mereka menjalankan shalat- dan menganggap mereka itu kaum yang murtad sampai mereka dikalahkan atau kembali ke pangkuan kaum Muslim. Sebab tidak boleh memisahkan antara aqidah (ideologi) dengan syariat (sistem hukum).

Khalifah Umar bin Khaththab ra bersikap tegas terhadap siapa saja yang membunuh dan melenyapkan nyawa seseorang. Malah, beliau bersikap tegas terhadap sekelompok orang dengan menerapkan hukum qishash (yaitu menghukum mati) para pelaku pembunuhan tersebut, meskipun para pelakunya itu seluruh penduduk kampung. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra, ia berkata :

“Ada seorang anak kecil diculik, kemudian dibunuh. Akhirnya Umar berkata; ‘Andaikan yang ikut terlibat dalam kasus pembunuhan itu seluruh penduduk Shana’a, aku pasti akan menjatuhkan hukuman mati kepada mereka.” (HR. Bukhari) KhatimahMasihkah umat ini membiarkan bangsa dan negara mereka bakal tenggelam seperti kapal Titanic?Oleh karena itu pilihan kita hanya satu, yaitu segera kembali kepada ajaran Islam, menjadikan Islam sebagai mabda dan menerapkan seluruh sistem hukum Islam secara total. Jika tidak, tak mungkin kita selamat. Ingatlah firman Allah SWT :“Maka berjalanlah kamu di muka bumi, perhatikanlah, bagaimana akibatnya orang-orang yang mendustakan (agama Allah).” (QS. An Nahl [16]: 36).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: