Ukhuwah Islamiyah

Prihatin. Itulah kata yang kini berada di lubuk hati setiap muslim yang sadar akan realitas sekarang. Bermula dari pertikaian politik yang berklimaks pada diterimanya hasil Pansus DPR tentang Bulloggate dan Bruneigate yang memuat dugaan kuat terlibatnya Presiden Abdurrahman Wahid dalam kedua kasus uang tersebut. Lanjutannya, memorandum DPR yang memperingatkan kinerja Presiden. Itulah aksi di dalam gedung DPR.

Di luar gedung, aksi pun digelar. Demonstrasi pro-kontra terjadi. Sampai terjadi amuk massa dan perilaku anarkis yang dilakukan oleh massa yang mengaku sebagai pendukung Abdurrahman Wahid, seperti penebangan pohon, perusakan sarana umum, termasuk sekolah swasta dan masjid seperti banyak diberitakan media massa. Respon bermunculan. Ada yang mengecam, netral, sampai nada pembelaan.

Lepas dari semua itu, satu hal yang jelas-jelas terjadi: perselisihan itu antar sesama umat Islam. Di tataran elite perseteruan terjadi sesama muslim. Abdurrahman Wahid kyai, Amien Rais tokoh Muhammadiyah, Akbar Tanjung mantan Ketua PB-HMI, bahkan Megawati baru saja menunaikan ibadah haji. Begitu pula, di lapangan pro-kontra juga terjadi antar sesama muslim. Mereka yang mengaku pendukung Gus Dur mayoritas muslim, demikian pula mereka yang menentangnya. Persoalannya bagaimana mungkin hal ini terjadi ?

Tali Islam ditinggalkan, ukhuwah terkoyakAllah SWT sejak 15 abad yang silam menurunkan wahyu kepada Rasulullah SAW yang termaktub dalam surat Ali Imran [3] ayat 103 :Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kalian dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nimat Allah orang-orang yang bersaudara

Imam Ibnu Katsir (Tafsirul Qur`anil ‘Azhim, juz 1, hal. 477) menyatakan bahwa tali Allah (hablullah) adalah Al Quran yang diturunkan dari langit ke bumi. Siapapun yang berpegang teguh kepada Al Quran berarti ia berpegang kepada jalan lurus. Sementara itu, ayat tersebut merupakan perintah Allah SWT kepada mereka untuk berpegang pada al jamaah dan melarang mereka dari tafarruq (bercerai-berai). Dari sini terang sekali bahwa ketercerai-beraian tersebut disebabkan tidak dijadikannya Islam sebagai pegangan dalam mengatur kehidupan.Agar kaum muslimin tidak tercerai-berai dari Islam sebagai jalan Allah SWT, Al Quran menegaskan :Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan tersebut; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertaqwa(QS. Al An’am 153).

Ayat di atas dengan terang menunjukkan bahwa bila umat Islam tidak benar-benar mengikuti jalan Islam, malahan justru mengikuti jalan-jalan yang bertolak belakang dengan Islam, niscaya jalan-jalan yang bukan berasal dari Islam tersebut akan mencerai-beraikannya dari jalan Allah SWT. Apakah demikian fenomena yang terjadi sekarang?

Merujuk pada apa yang terjadi dewasa ini sangat kasat mata bahwa para elite dan pemimpin tengah memperebutkan kepentingan masing-masing dalam koridor Demokrasi yang nota-bene turunan sekularisme. Sayang sekali, tampak yang mereka tuju bukan penerapan Islam sebagaimana apa adanya yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Bahkan jargon baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik dibawah naungan pengampunan Allah SWT) tak pernah lagi terdengar dalam pertentangan-pertentangan yang terjadi.

Lebih menyedihkan lagi, kondisi para pemimpin demikian memicu respons kalangan rakyat biasa. Karenanya, kalangan umat secara umum pun digiring ke arah yang sama. Nampak jelas, perkembangan situasi dan kondisi sosial politik akhir-akhir ini telah memaksa umat untuk menempatkan kepentingan politis sebagai satu-satunya tujuan. Demi kepentingan politik tersebut —disadari atau tidak— umat rela dimobilisasi dalam arus mendukung atau menolak kepentingan politis tadi sekalipun harus mengorbankan ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan atas dasar Islam) yang diwajibkan oleh Allah SWT.

Merujuk kepada realitas demikian, akar terkoyaknya tali ukhuwah dewasa ini adalah tidak dijadikannya Islam sebagai tolok ukur, pemutus, rujukan dan pengikat diantara sesama muslim sebagaimana yang diterangkan oleh Allah Dzat Maha Tahu dalam ayat-ayat terdahulu. Untuk itu, bagi umat Islam —khusunya para tokoh Islam— yang berhati jernih dan benar-benar rindu mendapatkan ridla Allah SWT tak ada pilihan lain kecuali menyamakan visi dan misi perjuangannya hanya demi tegaknya nilai, hukum dan aturan Islam dengan tolok ukur langkah yang juga diberikan oleh Allah SWT lewat Nabi Muhammad SAW didalam Al Quran maupun As Sunnah. Hanya Islam yang dijadikan pegangan. Bila tidak, sama saja dengan melanggengkan kericuhan di dalam tubuh sendiri.

Kendala Bagi Ukhuwah IslamiyyahAda kendala yang menghambat terajutnya ukhuwah islamiyyah. Setidaknya penghambat ini berupa ananiyah (akuisme) dan ashabiyah (fanatisme golongan).Ukhuwah Islamiyyah yang realitas dasarnya kompak, solid dan harmonis serta dilandasi atas rasa cinta dan kasih sayang secara otomatis akan terganggu —bahkan tidak muncul— apabila timbul perilaku akuisme. Dengan adanya sifat akuisme ini seseorang akan cenderung mengukur haq atau bathil, baik atau buruk, terpuji atau tercela menurut penilaian hawa nafsunya sendiri. Kezhaliman atau kemaksiatan akan dicoba dilegitimasi dengan memutarbalikkan ajaran Islam sesuai dengan kepentingan dan kelana berpikirnya sendiri. Bila hal ini terjadi maka pola hubungan cinta dan kasih sayang yang dibangun atas dasar syariat Islam berubah menjadi pola hubungan koncoisme dengan pelaku kezhaliman. Perkara ini, tentu saja, bukan lagi pola ukhuwah islamiyyah. Berkaitan dengan fenomena seperti ini Rasulullah SAW menegaskan :

Barangsiapa yang berjalan bersama menyertai orang yang zhalim untuk menolongnya, padahal ia mengetahui sesungguhnya orang itu adalah orang yang zhalim, maka suangguh ia bukan golongan Islam” (HR. Abu Daud dari Abu Hasan Tsamran Ibnu Shahra). Dan Nabi mengajarkan implementasi ukhuwah Islamiyyah dengan orang yang zhalim, justru mencegah kezhalimannya.

Adapun ashabiyyah merupakan fanatisme golongan, tercakup di dalamnya sukuisme, kelompokisme, dan nasionalisme. Allah SWT menjelaskan melalui Rasulullah SAW :

Bukan termasuk golongan kami yang menyeru kepada ashabiyyah (kelompoksuku/ bangsa), berjuang untuk ashabiyyah dan mati di atas ashabiyyah” (HR.Muslim).

Dengan adanya ashobiyah ini orang-orang akan bersatu karena kesamaan suku, kelompok, atau kepentingannya. Bahkan dengan alasan demi kepentingan nasional, mereka mengorbankan Islam yang universal. Tolok ukur yang dirujuk bukan lagi aturan dan hukum Islam. Semuanya didasarkan pada kepentingan. Ujungnya, tidak lagi membedakan secara tegas antara haq dengan bathil, iman dengan kufur, terikat dengan hukum syara atau sekedar kepura-puraan. Jadilah perbedaan antara Islam, sekularisme, dan agama-agama lain dipandang dengan kacamata ashobiyyah ini sebagai perbedaan dalam kata atau sebutan saja. Disatukanlah antara Islam, sekularisme, nasionalisme, bahkan komunisme atas dasar kepentingan bersama. Melalui ashobiyah demikian ditempuhlah jalan tengah seperti itu yang diridlai oleh seluruh golongan-golongan tadi.

Bahaya pengelompokan berdasarkan kepentingan politik tersebut sangat jelas. Yakni muncul konflik yang nyata maupun laten yang terus menerus. Yang berubah hanyalah para pelaku dan aliansinya. Bahkan itu dikukuhkan oleh adagium politik mereka : Tiada kawan abadi dan tiada musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi! Hakikat dari yang demikian tiada lain adalah tiada pemihakan abadi, kecuali kepentingan dan keuntungan sesaat. Sebagai kaum muslimin, tentu kita sangat khawatir sikap demikian menjatuhkan kita kepada murka Allah SWT. Sebab, Allah telah mencap munafiq pada sikap seperti itu. Dia berfirman:

Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir); tidak masuk kedalam golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak pula kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya(QS. An Nisa 143).

Waspadai Adu DombaRasulullah SAW memberikan peringatan pada umatnya tentang kehancuran umat akibat perpecahan yang akan menghancurkannya. Hal ini dinyatakan oleh baginda Nabi Muhammad SAW seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim : “Sesungguhnya Allah SWT telah menggulung bagiku bumi ini sehingga aku dapat melihat ufuk timur dan ufuk baratnya. Sesungguhnya kekuasaan umatku akan sampai kepada apa yang digulungkan kepadaku tadi. Kekuasan umatku mencakup bangsa hitam maupun putih. Dan aku memohon kepada Rabbku untuk umatku agar umatku itu tidak binasa akibat kelaparan yang sangat, dan agar mereka tidak dapat dihancurkan oleh musuh dari luar mereka. Rabbku seraya menyatakan: Wahai Muhammad, sesungguhnya apabila Aku menetapkan suatu ketetapan maka hal tersebut tidak akan dapat ditolak. Aku memberikan bagi umatmu agar mereka tidak binasa akibat kelaparan yang mewabah serta musuh dari luar diri mereka tidak dapat menguasainya sekalipun mereka berkumpul dari berbagai penjuru hingga sebagian umatmu itu menghancurkan sebagian yang lain, dan sebagian mencaci sebagian yang lain.”Jelas, Rasulullah SAW diberitahu oleh Allah Rabbul ‘alamin bahwa umat Islam tidak akan dapat dikuasai oleh musuh dari luar mereka. Satu hal yang dapat menyebabkan mereka hancur dan dikuasai musuh adalah keterpecahbelahan, perselisihan dan permusuhan diantara kalangan umat Islam sendiri. Berlandaskan kepada pemberitaan dari wahyu tersebut dapat dipahami (1) musuh dari luar tidak dapat mencengkram umat Islam, (2) kehancuran umat akibat pertentangan sesama umat sendiri, (3) keuntungan yang diperoleh akibat pertentangan sesama umat Islam itu dinikmati oleh pihak luar, bukan oleh umat Islam sendiri, dan (4) teknik pecah belah lalu kuasailah (devide et impera) terus dilakukan oleh mereka yang berkehendak Islam dan umatnya ditundukkan.

Bila hal-hal tadi digunakan sebagai cermin bagi realitas muslim sekarang —termasuk di Indonesia— nampak pertentangan sesama umat Islam hanya akan mengoyak Islam dan umatnya. Sadar atau tidak yang akan memetik buah perpecahan tersebut adalah mereka yang tidak suka terhadap Islam dan umat Islam. Oleh karena itu, sudah sepatutnyalah seluruh komponen umat Islam melakukan instrospeksi, apakah perjuangan selama ini adalah untuk Islam? Ataukah sekedar untuk kepentingan pribadi, kelompok, atau kebangsaan ? Bila disadari upaya yang dilakukan selama ini hanya sekedar untuk kepentingan politis individual, kelompok atau kebangsaan maka di sisi Allah SWT mereka yang demikian akan merugi. Tak ada cara lain untuk mengubahnya selain mengalihkan perjuangan dengan mengesampingkan akuisme dan ashobiyyah beralih kepada perjuangan menegakkan hukum dan aturan Islam sehingga umat Islam. Penting disadari oleh kalangan umat Islam baik tokoh maupun rakyat biasa bahwa sesama muslim itu bukan musuh, mereka itu bersaudara. Justru musuh bersama saat ini adalah sekularisme yang mendasari ideologi kapitalisme dibawah pimpinan negara besar, khususnya Amerika.

KhatimahKeterpecahbelahan hanya menghasilkan keuntungan mereka yang tidak suka kepada Islam dan umat Islam. Keterpecahbelahan sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Untuk itu, kembalilah kepada pangkuan Islam. Jadikan, aqidah Islam dan hukum-hukumnya sebagai tali pengikat sesama muslim dalam menghadapi mereka yang dengan culas hendak mencengkram Islam dan umatnya. Inilah kekuatan yang nyata. Mari kita renungi firman Allah:“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui” (QS.Al Munafiqun 8).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: