Berlepas Diri Dari Sistem Kufur

Ibarat dua ekor gajah yang tengah bertarung, pelanduk pula yang terkena akibatnya. Paling tidak begitulah gambaran masyarakat negeri ini melihat pengerahan dua kelompok massa yang berseteru, yang akhir-akhir ini membanjiri gedung MPR/DPR. Yang satu menuntut supaya Gus Dur –selaku Presiden- mundur, karena dinilai telah gagal menjalankan reformasi, serta terlibat kasus Bruneigate dan Buloggate. Sementara lainnya mendukung posisinya sebagai Presiden.

Meskipun dua kelompok itu sama-sama mengatasnamakan Demokrasi, memperjuangkan reformasi dan keterbukaan, namun karena telah dilumuri kepentingan-kepentingan politik golongan, muncul keberpihakan pada sebagian masyarakat yang sejak dini sudah terlibat dengan perkara dukung mendukung, tanpa mengetahui hakikat permasalahannya, dan tanpa mengetahui benar salahnya.

Lalu, bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi fenomena semacam ini ?

Propaganda dan Berjuang untuk Ashabiyah, Haram !Allah Swt. Telah memberikan kepada kita Dinul Islam, meliputi aqidah dan syariat yang menuntun dan mengatur umat manusia menuju kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat. Allah Swt telah memuji orang-orang yang mengajak (mendakwahkan) ajaran Allah (yaitu Islam) ini, sebagaimana firmanNya :“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (mendakwahkan) kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata : ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslimun).” (QS. Fushshilat : 33)Bahkan Allah Swt menempatkan posisi orang-orang yang berjuang bukan untuk Islam, tunduk kepada ideologi kufur (selain Dinul Islam), sebagai orang-orang yang merugi, dan seluruh aktifitas amalnya itu tertolak. Firman Allah Swt :

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85)Oleh karena itu, kelompok manapun dari kaum Muslim, yang mempropagandakan ideologi dan ajaran selain islam, –seperti Demokrasi, Sekularisme, Pluralisme, Emansipasi, Kapitalisme, Sosialisme, Globalisasi– yang bertentangan dengan ajaran Islam, dan nyata-nyata ajaran tersebut berasal dari bangsa-bangsa kafir, haram hukumnya !Begitu pula, propaganda yang memunculkan syi’ar-syi’ar jahiliyah, seperti fanatisme golongan, fanatisme individu, fanatisme kepartaian, dan sejenisnya –yang dikenal dalam Islam dengan istilah ashabiyah– juga diharamkan secara syar’iy.

Rasulullah saw bersabda :

“Siapa saja yang menyeru kepada ashabiyah (fanatisme golongan) maka dia tidak termasuk golongan kami (kaum Muslim).” (HR. Abu Daud)Islam juga menetapkan siapa saja yang mati karena membela dan memperjuangkan ashabiyah, maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, bersabda :“Dan siapa saja yang berperang di bawah panji kajahilan, ia marah karena ashabiyah, atau menyeru kepada ashabiyah, atau ikut menolong (membantu) karena ashabiyah, kemudian ia terbunuh, maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Muslim)Maka, apakah dua kelompok yang berseteru dan beramai-ramai mendatangi gedung MPR/DPR, atau berbagai aksi demo lainnya di berbagai kota di Indonesia itu dalam rangka menyeru dan berjuang untuk tegaknya Islam dan diterapkannya sistem hukum Islam secara total ? Atau, mereka menyeru slogan-slogan yang dinisbahkan kepada Demokrasi, Reformasi, Sosialisme, Kapitalisme, dan sejenisnya yang nyata-nyata bertentangan dengan Islam dan jelas-jelas tidak memperjuangkan Islam ? Atau, diantara mereka secara buta membela, mempertahankan dan menyeru ashabiyah (fanatisme) terhadap kelompok maupun tokoh-tokohnya? Perhatikanlah, termasuk kepada golongan mana mereka menuju ?

Berlepas diri dengan Sistem KufurPeperangan antara Haq dan Bathil tidak akan pernah berhenti, sama halnya juga peperangan antara Islam dan kekufuran tidak akan pernah padam. Begitu juga antara Islam dan kekufuran tidak akan pernah kompromi dan menjalankan kesepakatan melalui jalan tengah.Kekufuran, dapat dimanifestasikan bukan saja dalam bentuk ajaran-ajaran atau ideologi kufur, tetapi juga dalam bentuk pelaksanaan sistem hukum kufur, yang dijaga dan dijalankan oleh para penguasa zalim.

Penguasa itu bermacam-macam. Ada penguasa yang adil, yang memerintah dengan syariat Allah. Ada juga penguasa yang jahat, zalim, fasik dan kafir. Kepada penguasa yang adil, kita diminta untuk membantu dan membelanya, serta mengikat hati masyarakat agar tetap berada di sekelilingnya. Sebaliknya, terhadap penguasa yang melakukan kesalahan dan penyelewengan, kita dituntut untuk menasihatinya. Sedangkan terhadap penguasa yang jahat, zalim, dan fasik, syariat Islam telah memerintahkan kepada kita untuk melakukan mufaroqoh (memisahkan diri/berlepas diri), tidak condong kepada mereka, tidak membantu mereka dalam menjalankan kejahatan serta tidak memberikan pengakuan dalam bentuk apapun terhadap sikap dan tindakan mereka di hadapan umum. Bahkan tidak cukup hanya dengan berlepas diri saja. Kita juga diharuskan melakukan upaya sungguh-sungguh untuk memperbaiki, atau mengubah mereka.

Namun, terhadap penguasa kafir, kaum Muslim tidak boleh rela dipimpin oleh orang-orang kafir di negeri mereka sendiri. Apabila hal itu terjadi, kaum Muslim harus melakukan upaya perubahan (taghyir), bukan sekedar berlepas diri.

Menjauhkan diri dari sistem kufur, kezaliman, dan berlepas diri dari ikatannya adalah perkara yang diwajibkan atas seorang Muslim. Dalam bentuk praktisnya sikap seorang Muslim untuk berlepas diri dari sistem kufur, dan kezaliman tampak dengan cara menolak kerja sama dengan sistem hukum kufur (yaitu sistem yang menjalankan hukum selain Islam). Berdasarkan firman Allah Swt. :

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS. Al-Maidah : 44)“Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah : 45)“Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maidah ; 47)

Ketegasan al Quran dalam menyikapi kekufuran, kefasikan dan kezaliman, yang penampakannya di tengah-tengah masyarakat digambarkan dalam sistem kekuasaan/pemerintahan yang tidak menjalankan hukum berdasarkan apa yang diturunkan Allah, dipertegas oleh hadits Nabi saw, yang memerintahkan kita –kaum Muslim- untuk menjauhkan diri, tidak terlibat dengan aktifitas mereka, tidak mendukung, tidak mentaatinya, tidak meridhai keputusan-keputusannya. Rasulullah saw bersabda :

“Akan datang kepada kalian para penguasa. Mereka mengucapkan (janji-janji) yang tidak mereka kerjakan, dan melakukan apa yang tidak mereka ketahui. Barangsiapa yang menjadi penasihat, pembantu, dan pemerkuat kekuasaan mereka, maka mereka akan binasa dan membinasakan (umat).” (HR. Thabrani)“Sesungguhnya akan datang kepada kalian para penguasa yang mendekatkan orang-orang jahat (sebagai pembantu dan penasihat di sekitarnya) dan mengakhirkan waktu shalat. Oleh karena itu, siapa saja diantara kalian yang menjumpai hal itu, janganlah menjadi wakil rakyat, polisi, staf administrasi (penulis pendapatan negara), dan bendahara (penyimpan kas negara).” (HR. Ibnu Hibban, yang sanadnya dishahihkan oleh al-Albani).Dengan demikian, jika nash-nash diatas tadi mengharuskan kita –kaum Muslim- bersikap tegas dengan berlepas diri terhadap para penguasa mereka yang memelihara dan menjalankan sistem kufur, maka terhadap para penguasa Muslim yang menghalang-halangi dan memerangi upaya tegaknya sistem hukum Islam, menghalalkan apa yang diharamkan Allah, mengingkari janji-janji Allah, menyalahi sunah Rasul, memperkosa hak-hak hamba Allah, bersujud kepada hukum thaghut, dan bersahabat dengan musuh-musuh Allah (Yahudi dan bangsa-bangsa kafir Imperialis), terhadap mereka layak memperoleh sikap lebih keras lagi.

Maka, seyogyanya kita hanya berpihak kepada Islam, kepada sistem hukum Islam, dan kepada penguasa Muslim yang adil, yaitu yang menjalankan pemerintahannya sesuai dengan apa yang diturunkan Allah, yang menjaga dan memberikan garansi atas dilaksanakannya sistem hukum Islam secara total. Terhadap selainnya, ajaran Islam telah memberikan tuntunan kepada kita –kaum Muslim-, sebagaimana yang telah dipaparkan diatas.

PenutupSaat ini, umat Islam dihadapkan dengan berbagai fenomena yang bermuara kepada kebimbangan dan kebingungan. Itu karena, Islam sudah tidak dijadikan lagi sebagai rujukan, acuan dan tolok ukur dari sikap-sikap mereka.Tatkala umat dihadapkan dengan ide-ide dan pemikiran yang bertentangan dengan Islam, mereka malah mengkompromikan dan menjadi bagian dari pemikiran-pemikmiran kufur. Tatkala umat diuji dengan keberadaan para penguasanya yang zalim, yang tidak menjalankan aturan-aturan Allah, meninggalkan sunah RasulNya, sebagian dari kita malah terlibat dengan putaran permainan politik dan kekuasaan mereka. Tatkala umat dihadapkan dengan perpecahan dan munculnya kelompok-kelompok, yang bahkan saling bermusuhan dan menghancurkan satu dengan yang lain, kita bahkan menjadi ujung-ujung tombak dari kelompok-kelompok semacam itu.

Sudah saatnya umat kembali mendalami ajaran-ajaran Islam, mengambil tuntunannya yang mulia, merekatkan kembali ukhuwah kita, memperbaiki dan merubah sistem yang bertentangan dengan sistem hukum Islam, serta bersama-sama menghadapi kekufuran dan peradaban kufur sebagai musuh kaum Muslim. Firman Allah :

“Maka menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.”(QS.Ali Imran: 103)Rasulullah saw bersabda :“Seorang muslim adalah saudara sesama muslim (yang lainnya), dia tidak boleh menzalimi, dan tidak boleh menyerahkannya kepada musuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)Sungguh amat nista, seorang muslim yang tega menyerukan seruan jahiliyah (berupa fanatisme golongan, kelompok, madzhab, tokoh), maupun menyerukan jargon-jargon kufur (seperti Demokrasi, Pluralisme, Sekularisme, Sosialisme, Kapitalisme), terlebih lagi satu dengan yang lain saling menyerang dan membunuh, demi ashabiyah (fanatisme golongan) nya maupun membela seruan-seruan kufur. Ingatlah seruan Rasulullah saw :

“Seorang mukmin tidak boleh membunuh seorang mukmin (lainnya) karena (membela) seorang kafir. Seorang mukmin tidak boleh menolong seorang kafir untuk (melawan) seorang mukmin. Dan sesungguhnya jaminan perlindungan Allah adalah satu, yang akan menjangkau orang terendah dari mereka. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah penolong bagi sebagian lainnya. Mereka berbeda (memiliki ciri khas) dengan manusia lainnya.” (lihat Sirah Ibnu Hisyam, jld I/501)Maka, kita semua sesungguhnya berjuang untuk apa dan karena siapa ?Wahai kaum muslimin, Renungkanlah !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: