Tanggung Jawab Ulama Terhadap Penguasa

Salah satu dampak politik dukung-mendukung seseorang adalah persoalan “ceramah panas” Kyai Noer yang kini sedang dibincangkan secara informal di DPR. Pasalnya ceramah itu disebut-sebut menghalalkan darah Ketua MPR Amien Rais dan Ketua DPR Akbar Tanjung yang dipandang sebagai lawan politik Presiden Abdurrahman Wahid.

Menurut laporan Gatra, (10/VII, 27/1/2001, hal. 66) KH Noer Muhammad Iskandar, Sq. dalam ceramahnya di hadapan sekitar 1.400 kaum nahdliyyin di halaman kantor NU Cabang Kebumen mengungkapkan “Kalau Anda mati melawan Amien Rais dan konco-konconya. Mati melawan Akbar Tanjung dan konco-konconya. Anda masih dapat kredit poin, masuk surga karena membela ulama!”

Alasan anggota DPR-RI ini, Gus Dur itu selain mempunyai legitimasi institusi, juga merupakan simbol ulama. “Kata Nabi, seseorang di surga itu akan bersama dengan siapa yang dicintai. Kalau kita mencintai ulama, di surga akan bersama dengan ulama. Kalau mencintai koruptor, ya di neraka bersama koruptor,” Lebih dari itu, ia menyatakan : “Kalaupun yang melakukan makar itu Akbar Tanjung atau Amien Rais, tetap hukumnya haram. Dan karena itu, darah mereka halal …” (idem, hal. 67).

Logika Kyai Noer, jika Gus Dur jatuh, maka martabat ulama jatuh. Karena itu, lanjutnya, apapun yang terjadi, kita tetap membela Gus Dur dalam rangka membela ulama.

Tulisan ini bukanlah untuk tujuan pro maupun anti Gus Dur, melainkan mencoba untuk mendudukkan siapa ulama itu, dan bagaimana perannya terhadap penguasa sesuai dengan ajaran Islam.

Ulama itu Pewaris NabiSecara bahasa, ‘ulama itu merupakan bentuk jamak dari kata ‘alim yang berarti orang yang berilmu. Secara syar’iy, Allah SWT dan Rasul-Nya menjelaskan berbagai sifat siapa ulama itu. Diantaranya adalah :Pertama, ulama adalah orang-orang yang merupakan lambang iman dan harapan umat, memberikan petunjuk dengan hanya berpegang kepada aturan Islam. Mereka mewarisi karakter Nabi dalam keterikatannya terhadap wahyu Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya perumpamaan ulama di bumi adalah seperti bintang-bintang di langit yang memberi petunjuk di dalam kegelapan bumi dan laut. Apabila dia terbenam maka jalan akan kabur” (HR. Ahmad). Dalam hadits lain beliau SAW menyatakan :“Sesungguhnya kedudukan seorang alim sama mulianya dengan bulan di tengah-tengah bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Seorang ulama sejati tidak akan menyatakan sesuatu yang bertentangan dengan Islam. Misalnya, ia tidak akan menghalalkan darah sesama muslim hanya karena berbeda pendapat. Sebab, Rasulullah SAW bersabda : “Mencaci maki seorang mukmin itu fasik, dan membunuhnya adalah perbuatan kufur”.Begitu pula seorang yang benar-benar ulama tidak akan menghalalkan sesuatu yang haram dengan alasan kemaslahatan seperti supaya investor tidak lari ke luar negeri. Dalam kaidah ushul yang digali dari berbagai nash disebutkan ‘Dimana ada hukum syara di situ ada kemaslahatan’, bukan sebaliknya.

Kedua, ulama itu berjuang di jalan Allah SWT serta senantiasa memberikan nasihat kepada para penguasa. Mereka tabah dan sabar menghadapi segala macam tantangan dan halangan, demi memperjuangkan Islam dan umatnya. Bukan membela kepentingan pribadi, pimpinan, atau kelompoknya. Mereka senantiasa ingat akan sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang melihat penguasa zhalim dengan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah SWT, melanggar janji Allah dan menyalahi sunnah Rasul-Nya, berbuat kejam dan aniaya terhadap hamba-hamba Allah dengan sewenang-wenang; dan orang itu tidak mencegahnya baik dengan lidah ataupun dengan perbuatannya, maka sudahlah patut orang itu menempati tempat yang telah disediakan oleh Allah SWT baginya.” (HR. Thabrani).Ketiga, ulama selalu menegakkan kewajiban dan melarang kemunkaran. Mereka tidak menyembunyikan apalagi memutarbalikkan kebenaran syariat Islam. Mereka yakin akan firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Quran, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat pula oleh semua mahluk yang dapat melaknat” (QS. Al Baqarah [2] : 159).Keempat, ulama itu benar -benar takut kepada Allah SWT; dalam hati, ucapan dan perbuatannya yang senantiasa berpegang kepada aturan Allah SWT. Firman Allah Dzat Maha Gagah :“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir [35] : 28).Dengan demikian seseorang dikatakan ulama tidaklah dilihat dari wajahnya, pakaiannya, gelarnya, julukannya, ataupun turunannya, melainkan dari ilmu dan karakter-karakter tadi. Boleh jadi seseorang tidak digelari ulama, sebenarnya dia ulama. Begitu pula, seseorang yang disebut ulama sangat mungkin di sisi Allah SWT bukanlah ulama.

Tidak berpihak kepada kezhalimanSalah satu ciri utama hamba Allah SWT, terlebih-lebih ulama, adalah tidak mendiamkan, tidak menyetujui dan tidak mendukung kezhaliman dan siapapun yang berbuat zhalim. Tegas sekali firman Allah SWT dalam surat Hud [11] ayat 113 menyangkut hal ini :

Dan janganlah kalian cenderung (la tarkanuu) kepada orang-orang zhalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka,..”

Ibnu Juraij menyatakan bahwa kata la tarkanuu berarti ‘jangan cenderung kepadanya’; Qatadah menyebutkan, ‘jangan bermesraan dan jangan mentaatinya’; sementara Abu Aliyah menerangkan kata itu berarti ‘jangan meridlai perbuatan-perbuatannya’.

Larangan cenderung tersebut ditujukan pada orang-orang mukmin agar tidak berpihak kepada orang-orang yang melakukan tindak kezhaliman. Allah SWT melarang kecenderungan kepada mereka karena dalam keberpihakan tersebut terkandung pengakuan atas kekufuran, kezhaliman, dan kefasikan mereka. Pengakuan ini dipandang sebagai peran serta dalam dosa dan siksa.

Imam Az Zamakhsyari dalam Tafsir Al Kasysyaf Juz II/ 416 mengutip beberapa pendapat berkaitan dengan hal ini. Dinyatakannya bahwa Imam Sufyan Ats Tsauri berkata : “Di neraka jahanam nanti ada suatu lembah yang tak dihuni oleh orang kecuali para pembaca Al Quran yang suka berkunjung kepada penguasa”. Senada dengan hal itu, Imam Auza’i mengatakan, “Termasuk yang dibenci oleh Allah adalah ulama yang suka berkunjung kepada penguasa”. Bahkan, Imam Baihaqi meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Siapa yang berdoa untuk orang zhalim agar tetap berkuasa, maka dia telah menyukai orang itu bermaksiat kepada Allah di bumi-Nya.”

Dalam tafsir yang sama, disebutkan bahwa Imam Az Zuhri bergaul dengan para penguasa yang terkenal tidak memenuhi hak-hak masyarakat serta tidak meninggalkan kebathilan. Terdapatlah seseorang yang mengiriminya surat nasihat agar menjauhi fitnah. Dalam suratnya itu antara lain dia menyebut bahwa tindakan bergaul rapat dengan penguasa yang zhalim itu akan menimbulkan konsekuensi berupa dijadikannya perkara tersebut sebagai legitimasi beredarnya kebathilan yang mereka lakukan, pengakuan atas bencana yang mereka timbulkan, dan sebagai pembenaran atas kesesatan mereka. Juga, akan menimbulkan keraguan para ulama serta menjadi ikutan masyarakat awam. Orang itu lantas menutup suratnya dengan kalimat “Betapa banyak keuntungan yang mereka ambil dari Anda disamping kerusakan yang mereka timbulkan kepada Anda”.

Sementara itu, kezhaliman penguasa muslim itu ditunjukkan oleh perbuatannya yang tidak menerapkan aturan Islam. Di dalam Al Quran Allah SWT mewahyukan :

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang zhalim” (QS. Al Maidah [5] : 45).Ayat di atas ditujukan kepada manusia secara umum, termasuk juga kepada umat Islam. Seorang penguasa muslim yang tidak memerintah dengan apa yang diturunkan Allah SWT, yakni tidak menerapkan hukum-hukum Islam seluruhnya, atau menerapkan sebagian dan meninggalkan sebagian lainnya, disebut oleh Allah SWT dalam ayat tadi sebagai zhalim apabila masih meyakini kelayakan Islam untuk diterapkan (Taqiyyuddin An Nabhani, Nizhamul Hukmi fil Islam, hal. 228).Berdasarkan hal ini, seorang mukmin —terlebih-lebih lagi ulama— tidak akan mendukung kezhaliman tersebut. Sebab, mereka takut kepada Allah SWT yang akan membakarkan api neraka pada orang yang berbuat demikian seperti firman-Nya dalam surat Hud [11] ayat 113 tadi.

Para ulama dahulu senantiasa menentang kezhaliman yang dilakukan penguasanya. Tatkala Khalifah Muawiyah memulai pidatonya pada suatu hari, Abu Muslim Al Khaulani berdiri dan mengatakan tidak mau mendengar dan mentaati khalifah. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab, “Karena engkau (khalifah) telah berani memutuskan bantuan kepada kaum muslimin dari baitul mal. Padahal harta itu bukan hasil keringatmu dan bukan harta ayah ibumu”. Mendengar itu Muawiyah sangat marah, lalu turun mimbar, pergi, dan sejenak kembali dengan wajah yang masih basah. Ia membenarkan apa yang dikatakan Abu Muslim dan mempersilakan siapa saja yang merasa dirugikan boleh mengambil bantuan dari baitul mal (Al Badri, Peran Ulama dan Penguasa, hal. 101). Banyak lagi sikap para ulama seperti ini.

Hancurnya Penguasa dan Ulama penyebab Hancurnya UmatRasulullah SAW bersabda :“Dua macam golongan manusia yang apabila keduanya baik maka akan baiklah masyarakat. Tetapi, apabila keduanya rusak maka akan rusaklah masyarakat itu. Kedua golongan manusia itu adalah ulama dan penguasa” (HR. Abu Na’im).Dalam hadits di atas Rasulullah SAW memberitahu kepada umatnya bahwa penguasa itu ada yang baik ada pula yang buruk. Begitu pula ulama itu ada yang baik dan ada yang buruk (ulama su`). Lebih tegas lagi Nabi SAW menyatakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi :

“Akan datang penguasa-penguasa fasik dan zhalim. Barangsiapa percaya kepada kebohongannya dan membantu kezhalimannya maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dri golongannya, dan dia tidak akan masuk sorga.”Berkaitan dengan hal ini Imam Al Ghazali (Ihya ‘Ulumiddin, juz 7, hal. 92) menyatakan :“Dulu tradisi para ulama mengoreksi dan menjaga penguasa untuk menerapkan hukum Allah SWT. Mereka mengikhlaskan niat dan pernyataannya membekas di hati. Namun sekarang, terdapat penguasa yang tamak namun ulama hanya diam. Andaikan mereka berbicara, pernyataannya berbeda dengan perbuatannya sehingga tidak mencapai keberhasilan. Kerusakan masyarakat itu akibat kerusakan penguasa, dan kerusakan penguasa akibat kerusakan ulama. Adapun kerusakan ulama akibat digenggam cinta harta dan jabatan. Siapa saja yang digenggam oleh cinta dunia niscaya tidak mampu menguasai ‘kerikilnya’, bagaimana lagi dapat mengingatkan penguasa dan para pembesar.” Bila kondisi sebagian ulama pada jaman Imam Al Ghazali demikian, tidaklah mengherankan bila dewasa ini kondisinya lebih parah, terlebih-lebih sejak hancurnya Khilafah Islamiyyah tahun 1342 H (1924 M).

KhatimahBerdasarkan bahasan di atas, segenap ulama penting untuk introspeksi supaya tidak tergolong pada ulama buruk yang membantu kezhaliman dan membantu hancurnya penguasa yang berujung pada hancurnya umat. Begitu pula, umat Islam sangat tepat bila kembali kepada ajaran Islam. Allah SWT memerintahkan untuk mengikuti seluruh apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan menjauhi apa saja yang dilarangnya. Kebenaran Islam dari manapun datangnya tidak boleh ditolak. Sebaliknya, kebathilan darimanapun asalnya, siapapun yang menyatakannya, harus ditentang. Sebab, Allah SWT berfirman :“Dan apa saja yang dibawa oleh Rasul, ambillah. Dan apa saja yang dicegah oleh Rasul, jauhilah” (QS. Al Hasyr [59] : 7).Wallahu muwaffiq ila aqwamit thariiq!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: