Mencari Lailatul Qadar

Alhamdulillah kini kita telah memasuki sepuluh malam terakhir (asyrul awaakhir) dari bulan Ramadlan 1421 H. Sebagaimana sunnah Nabi Muhammad saw., ibadah pada sepuluh malam terakhir atau biasa dikenal dengan “likuran” kaum muslimin diharapkan untuk meningkatkan kualitas ibadahnya mengngingat pada malam-malam likuran itulah turunnya suatu malam yang nilainya lebih dari seribu bulan, yang dikenal dengan istilah Lailatul Qadar atau malam kemuliaan. Apa sesungguhnya malam kemuliaan itu? Apa keistimewaannya? Tepatnya pada malam keberapa dia turun? Persiapan apa yang perlu dilakukan untuk menyongsong turunnya malam itu? Dan apa urgensinya bagi kaum muslimin hari ini? Tulisan ini akan berusaha menguraikannya.

Lailatul Qadar?

Lailatul Qadar atau malam kemuliaan adalah malam yang dikabarkan oleh Allah SWT sebagai malam kemuliaaan, dimana nilai keberkahan malam itu lebih baik daripada seribu bulan. Malam dimana para malaikat dan malaikat Jibril turun kedunia menebarkan salam hingga terbit fajar. Secara tegas dan jelas Allah SWT menerangkan malam itu dalam firman-Nya:

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (Al Qadr 1-5).

Berkaitan dengan sebab turunnya ayat (sabab nuzul) tersebut diriwayatkan Rasulullah menceritakan kepada para sahabat bahwa di masa lalu ada pemuda Bani Israil yang berjihad di siang hari dan beribadah qiyamul lail di malam hari selama seribu bulan berturut-turut. Para sahabat pun berdecak kagum terhadap amalan pemuda bani Israil itu dan membayangkan betapa besar pahala orang itu. Namun Rasulullah saw. menyebutkan adanya pahala yang lebih besar dari itu, yakni amal ibadah seorang mukmin pada suatu malam yang disebut lailatul qadar.

Di samping itu lailatul qadar juga disebut oleh Allah SWT sebagai malam keberkahan (lailatul mubaarakah). Allah SWT berfirman:

sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. (QS. Ad Dukhan 3).

Keistimewaan Lailatul Qadar?

Apa keistimewaan malam itu sehingga memperoleh kedudukan yang sangat tinggi? Ada dua sebab penting. Pertama, karena pada malam itulah diturunkannya Al Qur’an sebagaimana firman Allah:

Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al Baqarah 185).

Sedangkan Al Qur’an memberikan kehidupan baru bagi umat manusia, sehingga malam itu adalah awal dimulainya kehidupan baru bagi manusia sehingga layak sekali dijadikan hari yang mulia. Abu Bakar Al Warraq mengatakan : “Malam itu dinamakan lailatul qadar karena pada malam itu turun Al Qur’an yang mempunyai kedudukan yang tinggi, dibawa oleh malaikat yang memiliki derajat yang tinggi, kepada Rasul yang mempunyai derajat yang tinggi, untuk disampaikan kepada umat yang tinggi pula”.

Kedua, pada malam itulah turun banyak sekali malaikat yang disertai Jibril a.s. untuk memberikan ucapan keselamatan (tahiyyat) kepada orang-orang yang berpuasa (shaimin) yang ikhlas (mukhlisin) dan untuk menyaksikan amal ibadah mereka, serta untuk menebarkan salam dan rahmat di antara penduduk bumi.

Oleh karena itu, malam itu juga disebut “malam keselamatan” (lailatus salam) atau malam kemuliaan (lailatus syaraf). Juga dinamakan lailatut tajalli dimana Allah SWT melimpahkan cahaya dan hidayah-Nya untuk para hamba-Nya, orang-orang yang shaum (shaimin), dan orang-orang yang beribadat malam.

Ada yang menyatakan bahwa bilangan malaikat yang turun ke bumi pada malam itu lebih banyak dari pasir. Allah menerima taubat segala orang yang bertaubat pada malam itu. Pada malam itu dibuka segala pintu langit sejak terbenamnya matahari sampai kembali terbit. Lalu para malaikat itu menancapkan panji-panji di empat tempat, pertama di sisi Ka’bah; kedua di sisi kubur Rasulullah; ketiga di sisi Masjid Al Aqsha di Baitul Maqdis; dan keempat di sisi Masjid Tursina. Kemudian mereka bertebaran ke seluruh pelosok bumi, memasuki rumah-rumah orang mukmin sambil bertasbih, bertahlil, bertaqdis, dan memohon ampunan buat umat Muhammad saw. (lihat Hasbi Ash Shiddieqy, Pedoman Puasa, 242-243).

Memang keistimewaan lailatul qadar ini tak bisa dikhayalkan besarnya, sebab memang turunnya adalah sebagai bagian dari syari’at Allah SWT yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. yang kedatangannya merupakan rahmat Allah bagi seluruh alam. Allah SWT berfirman:

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” ( Al Anbiyaa’ 107)

Juga firman-Nya:

(1) Haa Miim (2) Demi Kitab (Al Qur’an) yang menjelaskan, (3) sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. (4) Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (5) (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, (6) sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, ( Ad Dukhan 1-6)

Di dalam kitab Syu’abul Iman diriwayatkan suatu hadits oleh Imam Baihaqi dari Anas r.a. yang berkata: “Rasulullah saw. bersabda: Bila datang lailatul qadar, turunlah Jibril bersama rombongan angkatan malaikat yang jumlahnya besar sekali. Mereka bershalawat kepada segala hamba yang berdiri maupun yang sedang duduk menyebut nama Allah. Apabila telah datang hari raya, Allah SWT membanggakan diri kepada para Malaikat dengan hamba-Nya itu. Allah berfirman: ‘Hai malaikat-Ku! Apakah balasan buat seorang pekerja yang telah menyempurnakan pekerjaannya? Para malaikat menjawab: Ya Rabbana, balasannya adalah disempurnakan upahnya. Allah berfirman: Wahai malaikat-Ku, para hamba-Ku, baik lelaki maupun perempuan telah menyelesaikan fardlu yang telah Kuwajibkan atas mereka. Kemudian mereka keluar ke tanah lapang untuk berdoa. Demi kebesaran-Ku, keagungan-Ku, kemulian-Ku, ketinggian-Ku, dan ketinggian tempat-Ku, Aku akan memperkenankan doa mereka. Kemudian Allah berfirman kepada para hamba-Nya: ‘Kembalilah kalian, sungguh Aku telah gantikan keburukanmu dengan kebaikan”.

Kapan saat Lailatul Qadar ?

Jelas malam turunnya Lailatul Qadar adalah pada bulan Ramadlan. Hanya saja, pada malam keberapa? Inilah yang dirahasiakan oleh Rasulullah saw. Beliau hanya memberikan isyarat untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir. Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Kitab Al Muwattha’ dari Abi Said Al Khudri yang berkata:

“Adalah Rasulullah SAW. beri’tikaf pada puluhan yang kedua dari bulan Ramadhan. Pada suatu tahun setelah sampai beliau pada malam 21 yang seharusnya beliau keluar dari i’tikaf pada pagi harinya, beliau berkata: “Barang siapa turut beri’tikaf bersamaku, hendaklah beri’tikaf pada puluhan yang akhir. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku malam al-qodar. Kemudian aku dijadikan lupa. Aku bersujud pada paginya di air dan tanah. Karena itu carilah dia di puluhan yang akhir, carilah dia di tiap-tiap malam yang ganjil. Berkata Abu Said: “Maka turunlah hujan pada malam itu, sedangkan masjid diatapi dengan daun korma dan meneteslah air ke lantai. Kedua mataku melihat Rasulullah kembali dari masjid, sedangkan pada dahinya nampak bekas air dan tanah, yaitu malam 21.”

Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dari Aisyah bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Carilah dengan segala daya upaya malam al-qodar di malam-malam ganjil dari sepuluhan yang akhir dari bulan Ramadhan.”

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu Umar bahwa Nabi bersabda:

“Maka barang siapa yang hendak mencari malam al-qodar, zarilah pada malam tujuh yang akhir.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Umar bahwa Nabi bersabda:

“Carilah lailatul qodar pada sepuluhan yang akhir; jika seseorang kamu lemah mencari, maka janganlah kamu kalah dalam mencari pada tujuh yang akhir.

Imam Qurthubi menyebut jumhur ulama berpendapat bahwa lailatul qadar itu jatuh pada malam ke 27 mengingat hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Ubai bin Ka’ab yang berkata:

“Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Malam al Qadar adalah malam keduapuluh tujuh”.

Khatimah

Jika demikian, umat ini harus lebih menyiapkan mental, pikiran, dan perasaan, untuk mengkonsentrasikan ibadah pada sepuluh malam terakhir ini, khususnya pada tujuh malam terakhir, dan lebih khusus lagi pada malam keduapuluh tujuh.

Bagi bangsa Indonesia yang mayoritas muslim, pada malam malam lailatul qadar yang sedang kita cari ini, marilah kita renungkan untuk membuat keputusan yang sesuai dengan perintah Allah SWT, yakni kembali kepada hukum Allah SWT dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, dan bernegara.

Wallahu muwaffiq ila aqwamith thariiq.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: