Aceh, Kemana Menuju?

Sidang Rakyat Aceh untuk Kedamaian dan Kedaulatan Aceh (Sira-Rakan) mendesak pemerintah untuk segera mengembalikan kedaulatan Aceh sebagai sebuah bangsa dan negara, demikian bunyi salah satu keputusan Sira Rakan yang berakhir Selasa (14/11) di lapangan Tugu Darussalam, Banda Aceh (Republika, 15/11/2000).

Persoalannya jelas bahwa Sira–Rakan itu membesarkan tuntutan kemerdekaan bangsa Aceh untuk secara bulat lepas dari kesatuan wilayah Republik Indonesia. Hanya saja masih ada masalah yang harus dihitung-hitung oleh rakyat Aceh sendiri maupun pemerintah pusat dan seluruh rakyat Indonesia. Mengingat lepasnya Timor Timur dari Indonesia ternyata menyisakan masalah yang banyak dan panjang yang belum berhenti sampai sekarang. Jelas korban di pihak rakyat bakal banyak berjatuhan. Jika Timtim yang begitu kecil saja memakan korban puluhan hingga ratusan ribu pengungsi, entah berapa yang mati, dan entah berapa rumah dan harta benda musnah, bagaimana pula dengan Aceh yang begitu besar?

Tulisan ini akan mencoba menganalisa masa depan Aceh dan berbagai kemungkinannya apabila lepas dari Indonesia, dan alternatif terbaik yang hendaknya diambil oleh bangsa Aceh dan kaum muslim Indonesia.

Persoalan-persoalan Jika Aceh Merdeka?

Makna dari keputusan Sira-rakan di atas adalah seolah-olah bangsa Aceh menghendaki terpisah dari bangsa dan negara Indonesia, sebagaimana Timor Timur, dan kini sedang dipersiapkan oleh penduduk Irian Jaya yang sudah mengubah nama menjadi Papua. Ya, seolah-olah bangsa Aceh tidak mau tahu lagi dengan bangsa Indonesia yang notabene 90% muslim, bahkan untuk itu mereka siap perang dengan bangsa Indonesia sebagaimana pula juga sudah diancamkan secara simbolis oleh bangsa Papua dengan penobatan Pangdam Trikora Albert Inkirawang sebagai Panglima Perang bangsa Papua baru-baru ini. Pada tahun lalu saja, ketika tuntutan sidang rakyat Aceh baru dua opsi dalam referendum, mereka sudah mengeluarkan ancaman perang itu (Forum, no.33/ VIII, 15-21 November 1999).

Dengan tekad dan ancaman seperti itu, bangsa Aceh tampak lebih mengedepankan nasionalisme bangsa Aceh daripada keislaman bangsa Aceh yang dulu pada masa kesultanan Aceh hidup dengan peradaban Islam. Mereka berjihad fisabilillah melawan bangsa kafir Belanda yang hendak menjarah kekayaan dan kedaulatan mereka. Konon bendera perang bangsa Aceh bergambar pedang Nabi Muhammad saw. yang bernama “Dzul Faqar”, dan tertulis lafazh dalam bendera tersebut kalimat Arab: “La fata illa Ali wala saifa illa dzul faqar”, yang artinya: “Tidak ada pemuda kecuali Ali dan tidak ada pedang kecuali Dzul Faqar”. Pada awal kemerdekaan, bangsa Aceh mau bersatu dengan RI lantaran Soekarno menjanjikan negara Indonesia dibangun atas dasar Islam dan demi Islam. Begitu Soekarno ingkar janji, bangsa Aceh di bawah Tengku Daud Beureuh mengangkat senjata dan bergabung dengan NII yang diproklamirkan oleh Kartosuwiryo di Jawa Barat. Apakah kini kaum muda Aceh yang merupakan anak generasi kaum muslimin melupakan keislaman nenek moyang mereka?

Pedang dan rencong bangsa Aceh warisan Sultan Iskandar Muda hingga Tengku Umar lebih tepat dihadapkan kepada bangsa kafir imperialis seperti Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat. Bukan kepada bangsa Indonesia yang muslim. Bukankah Nabi Muhammad saw. bersabda: “Jika dua orang muslim mengacungkan pedang, yang membunuh dan yang dibunuh, keduanya masuk neraka”. Juga beliau saw. bersabda:

“Bukanlah termasuk golongan kami orang yang memprogandakan ashabiyyah (sikap fanatik kebangsaan), yang berperang atas dasar ashabiyyah, dan mati atas dasar ashabiyyah”.

Oleh karena itu, jika Aceh ingin berdaulat sebagai sebuah bangsa dan negara dengan dasar faham kebangsaan (nasionalisme) dan menjadi negara bangsa (nation state) an sich, maka itu merupakan penyimpangan dari peradaban, ideologi, dan cita-cita para leluhur mereka. Ini tentu harus dikoreksi. Sebab, implikasi dari pendirian negara seperti itu jelas adalah penerapan hukum kafir Barat sekuler sebagaimana yang terjadi pada berbagai bangsa di dunia Islam. Loyalitas negara baru itu pun bakal diberikan kepada seluruh faham sekuler dan bangsa-bangsa sekuler. Sebagaimana pemerintahan Indonesia yang merdeka sejak tahun 1945, pemerintahan negara baru tersebut bakal mengadopsi hukum-hukum sekuler dalam masalah perdata, pidana, ekonomi, sistem pemerintahan, politik dalam negeri maupun politik luar negeri. Islam bakal diperlakukan seperti agama Nasrani, agama ritual yang tertinggal di meunasah-meunasah mereka.

Mungkin ada yang berkata, itu kan hak asasi bangsa Aceh sebagai pemilik bumi Aceh Darussalam? Pertanyaan kita benarkah bangsa Aceh yang telah menciptakan bumi Aceh? Kalau memang benar, dimanakah mereka sebelum bumi Aceh itu ada? Tentu tidak terbayangkan. Lalu siapakah yang telah menciptakan bumi Aceh dengan segala kekayaan yang ada di dalamnya? Tidak lain adalah Allah SWT, Al Khaliq yang telah menciptakan bumi Aceh dan seluruh pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Irian Jaya, Timor, Australia, Asia, Afrika, Amerika, dan setiap jengkal di seluruh pelosok bumi ini (lihat QS. Al Baqarah 29; Al An’am 73; Yunus 3,5; dll.). Dan Allah SWT berkehendak mewariskan bumi ini kepada para hamba-Nya yang shalih. Dia berfirman:

 “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah Kami tulis dalam Lauhul Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih” (QS. Al Anbiya 105).

Mungkin di Aceh masih banyak para hamba-Nya yang shalih, yang berjuang ingin melepaskan bumi Aceh dari kezhaliman dan tipu daya pemerintahan Indonesia, yang telah memaksakan pola dan peraturan hidup sekuler sejak zaman Soekarno, Soharto, Habibie, hingga Gus Dur kini. Jika demikian, ada kemungkinan Aceh Darussalam bakal merdeka menjadi negara Islam.

Pertanyaan kita, negara Islam seperti apakah yang bakal didirikan oleh bangsa Aceh yang shalih-shalih itu?

Sebab sebutan negara Islam banyak penafsirannya. Ada yang mengaku negara Islam formalitas belaka, seperti negara Islam Mesir yang mencantumkan Islam sebagai agama negara dalam UUD-nya, sementara kita tahu Mesir adalah negara yang paling sekuler di antara negara-negara Arab. Turki yang dikabarkan sebagai negara Islam justru meletakkan sekularisme sebagai dasar negaranya menggantikan Islam. Mungkin kaum muslimin di luar negeri membayangkan Indonesia sebagai negara Islam!

Ataukah mereka akan mendirikan negara Islam yang menerapkan sebagian hukum Islam dan tidak menerapkan sebagian yang lain seperti Iran dan Arab Saudi?

Ataukah akan menerapkan seluruh hukum Islam secara total seperti yang pernah diterapkan sejak di masa Nabi dan para Khulafaur Rasyidin hingga Khilafah Utsmaniyah masuk ke Liga Bangsa-bangsa (cikal bakal PBB) pada tahun 1856 yang mensyaratkan agar Khilafah Islamiyah itu menanggalkan politik luar negeri Islami negara itu?

Jika yang terakhir ini pilihan kaum muslimin Aceh, negara baru tersebut harus menyiapkan seluruh infrastruktur bagi berdirinya sebuah Daulah Islamiyyah yang bakal menjadi rujukan dan pelindung kaum muslimin di seluruh dunia. Mereka harus menyiapkan masyru’ dustur (rancangan UUD) yang berisi bab-bab dan pasal-pasal tentang hukum-hukum umum seperti dasar negara, definisi darul Islam, wewenang adopsi hukum Islam menjadi UUD/UU, hak dan kewajiban warga negara baik muslim maupun non muslim menurut hukum syara, penerapan syari’at Islam terhadap seluruh warga negara baik muslim maupun non muslim dengan catatan khusus bagi warga non muslim bahwa mereka diberi hak untuk tetap memeluk agama mereka dan tata cara berpakaian, pernikahan, masalah makanan dan minuman diperlakukan sesuai dengan agama mereka. UUD itu juga berisi tentang sistem pemerintahan yang dianut oleh negara, yakni sistem khilafah Islamiyyah, hak rakyat sekaligus kewajiban mereka memberikan kritik baik secara pribadi maupun dalam bentuk partai politik, prinsip-prinsip pemerintahan, struktur pemerintahan khilafah, seperti lembaga khalifah, mu’awin tafwidl, mu’awin tanfidz, amirul jihad, al qadla (kehakiman), al wulat (para kepala wilayah/propinsi), mashalihud daulah (semacam departemen teknis untuk memenuhi kemaslahatan rakyat seperti pendidikan, kesehatan, pertanian, industri, dan perdagangan), dan majelis umat. Juga berisi tentang sistem sosial Islami; sistem ekonomi Islam, strategi pendidikan Islam, Dan UUD itu memuat kebijakan politik luar negeri negara yang fokusnya adalah menjamin terpenuhinya kemaslahatan umat, mengemban dakwah ke seluruh dunia, dan memberikan image kepada dunia internasional bahwa daulah Islamiyah adalah negara yang kuat, penerapan hukum-hukumnya harmonis, dan menjadi lisanul hal bagi mereka sehingga dunia berbondong-bondong masuk Islam.

Pertanyaan kita, sudahkah saudara-saudara muslim yang shalih di Aceh menyiapkan hal itu? Sudahkah ide-ide, pendapat-pendapat, dan hukum-hukum Islam untuk seluruh aspek kehidupan sebagaimana dicakup dalam rancangan UUD di atas menjadi ide masyarakat atau paling tidak kelompok kuat di masyarakat Aceh? Jika anda mampu membuktikan kesiapan itu semua, tentu anda bakal mendapatkan dukungan yang kuat dari seluruh bangsa muslim Aceh — kecuali sedikit mereka yang sudah maniak dengan kebudayaan dan pola pikir sekuler Barat—dan bangsa muslim Indonesia, bahkan bangsa muslim di seluruh dunia bakal mendukung berdirinya Daulah Khilafah Islamiyah. (DKI). Dan kita yakin bahwa Allah SWT bakal mengokohkan kedudukan DKI itu sebagaimana janji-Nya:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa” (QS. An Nuur 55).

Jika Aceh Memiliki Otonomi Khusus?

Namun jika situasi dan kondisi riil politik belum memungkinkan tegaknya khilafah Islamiyah di Aceh, maka daripada bangsa muslim Aceh terjatuh pada sistem negara bangsa (nation state) seperti yang telah dialami bangsa Indonesia selama ini, maka lebih baik bangsa Aceh bersabar menerima otonomi khusus dengan tetap mengemban agenda perjuangan menegakkan syari’at Islam di muka bumi. Dengan otonomi khusus yang ditawarkan pemerintah pusat, pemerintah otonomi khusus Aceh Darussalam bisa memulai program penerapan syari’at Islam sebagai modal penerapan syari’at Islam di seluruh wilayah Indonesia dan seluruh dunia.

Langkah ini secara politik lebih kecil resikonya bagi keutuhan dan kedamaian bangsa muslim Aceh dan Indonesia secara keseluruhan. Dengan demikian kesatuan negeri-negeri Islam yang merupakan kewajiban dalam hukum Islam akan terjaga. Allah SWT melarang kaum muslimin berpecah belah dalam berbagai negara dan bangsa. Dia memerintahkan kaum muslimin bersatu di bawah panji-panji Islam dan menjadikan dinul Islam sebagi tali pengikat dan perekat bangsa-bangsa yang mengaku dirinya sebagai kaum musimin hamba Allah SWT. Firmannya:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Ali Imran 103).

Khatimah

Patut dicatat oleh bangsa muslim Aceh dan bangsa muslim Indonesia secara keseluruhan, kesatuan bangsa muslim di negeri ini sebagaimana dulu dibangun oleh para leluhur kita, adalah kesatuan persaudaraan atas dasar ikatan aqidah Islamiyyah (rabithah ukhuwwah Islamiyyah), bukan persaudaraan atas dasar kebangsaan (syu’ubiyyah) ataupun kesatuan wilayah tanah air (wathaniyah). Dan istilah “Serambi Mekah” bagi Aceh menunjukkan bahwa bangsa-bangsa muslim di sini dari Sabang (di bawah kekuasaan Kesultanan Aceh) sampai Merauke (di bawah Kesultanan Tidore), adalah bangsa yang berkiblat ke Ka’bah di Makkatul Mukarramah.

Oleh karena itu, jika Aceh tetap bersatu bersama bangsa Indonesia lainnya tapi tidak diikat dengan aqidah Islam dan tidak hidup di bawah naungan pemerintahan Islam tentu akan tetap menggelisahkan bangsa Aceh sebagaimana yang selama ini selalu mereka rasakan. Dan harus menjadi kesadaran kita bersama bahwa persatuan Indonesia atas dasar nasionalisme dan kehidupan bersama di bawah pemaksaan peraturan hidup sekuler warisan penjajah adalah kehidupan yang tidak normal. Berdiam diri terhadap keadaan ini adalah dosa yang pelakunya bakal disiksa oleh Allah SWT di akhirat kelak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: