Persekongkolan Di Balik Penumpahan Darah Kaum Muslimin Palestina

Palestina dan Israel (17/10) sepakat mengakhiri kekerasan yang telah terjadi lebih dari dua pekan terakhir, yang memakan korban setidaknya 110 orang tewas dan 3000 orang cedera. Mereka sepakat kembali ke jalan semula, yakni mengupayakan penyelesaian permanen atas konflik di antara mereka. Itulah yang diumumkan oleh Presiden AS Bill Clinton pada KTT Sharm al Sheikh, Mesir (Kompas, 18/10/2000). PM. Israel Ehud Barat dan Arafat yang menjadi tokoh penting dalam pertemuan itu memberikan komentar posistif. Barak mengatakan : “Tujuan KTT ini tercapai”. Dia menambahkan “Israel akan menarik seluruh pasukannya ke tempat semula, sebelum pecahnya krisis” (Kompas, idem). Arafat mengatakan, “Kami harap implementasi akan dilakukan sesuai dengan yang kita sepakati”. Sedangkan Clinton yang menjadi tokoh kunci dalam KTT itu mengatakan bahwa kedua belah pihak telah sepakat melakukan “tindakan-tindakan konkret segera” untuk mengakhiri kekerasan (Kompas, idem).

Mendengar hasil KTT itu tampaknya dunia, khususnya dunia Islam, sangat berterima kasih kepada ketiga tokoh tersebut. Karena siapapun tak suka dengan kekerasan. Apalagi kekerasan yang dilakukan oleh tentara biadab Israel terhadap warga sipil kaum muslimin Palestina. Hanya saja dunia, termasuk kaum muslimin, mungkin lupa bahwa ketiga tokoh ini pada bulan Juli lalu telah bertemu di Camp David, Maryland, AS, guna membahas “Rancangan Penyelesaian Final” bagi Palestina. Apa hubungan KTT Camp David dengan pembantaian Akhir September dan KTT Sharm Al Sheikh terakhir yang tampak mulus ini?

Tulisan ini akan mencoba mengungkapkan analisa sebuah konspirasi di balik pembantaian kaum muslimin di Palestina tersebut. Mudah-mudahan ini membuka mata kaum muslimin terhadap siapa-siapa yang bertanggung jawab atas kejahatan internasional yang menimpa kaum muslimin.

Bukti-bukti Konspirasi

Mahmud ‘Abbas (Abu Mazin) salah satu pembantu ‘Arafat dalam KTT Camp David menyatakan –dalam sebuah pertemuan khusus lebih 1,5 bulan lalu, “Jika rintangan-rintangan yang menghadang hasil KTT Camp David masih terus berlangsung, maka harus ada perang “terbatas” untuk menghilangkan rintangan ini. Dan perang ini mungkin bisa merembet ke luar batas Palestina.”

Sebelum terjadi pembantaian di al Quds, pemerintah Israel telah mengirim beberapa delegasi ke London, Paris, dan Bonn, menginformasikan kepada pemerintah mereka, bahwa pemerintah Israel telah mendapat informasi yang “tidak ada keraguan” seputar persiapan gerakan orang-orang Palestina “untuk menyerang konsentrasi-konsentrasi pemukiman penduduk Israel di Tel Aviv, Jerusalem, dan kota-kota Yahudi lainnya, termasuk kepentingan-kepentingan Israel di kota-kota tersebut.” Beberapa pengamat memahami bahwa pemerintahan Barak, telah memberi “data dan informasi” ke kota-kota tersebut untuk berjaga-jaga

Pada saat yang sama [seminggu sebelum terjadinya pembantaian], ’Arafat sering memberikan penjelasan, bahwa dalam waktu sangat dekat, akan terjadi perkembangan signifikan di wilayah Palestina tanpa menyebut detailnya. Sumber-sumber Palestina yang menolak perjanjian Oslo, melihat bahwa pimpinan Gerakan Fatah di dua kamp, yaitu di ‘Ain al-Hilwa dan Rashidiyyah (Selatan Lebanon) telah mempersiapkan pusat gerakan bawah tanah, melengkapi para personelnya dengan alat-alat komunikasi canggih.

Ini semua memperkuat bukti bahwa pembantaian Aqsha beserta kejadian-kejadian yang menyertainya, telah direncanakan oleh banyak pihak, antara lain, Amerika, Israel, ‘Arafat dan kroninya, serta pihak-pihak lain, seperti penguasa Mesir, Saudi, Maroko, dan Perancis.

Tujuan Politis Di Balik Pembantaian

Tujuan mereka menyalakan peperangan dan melakukan pembantaian terhadap penduduk Palestina adalah untuk menteror penduduk dan menghilangkan rintangan yang menghalangi kesepakatan yang mereka buat.

Rintangan itu muncul dari kelompok orang-orang –Arab—muslim Palestina, dan juga dari kelompok orang-orang Israel sendiri.

Rintangan dari kelompok pertama, sesungguhnya tidaklah mudah untuk mengusir kaum muslimin dari masjidil Aqsha dan al Quds. Masjidil Aqsha telah tercantum di dalam al Quran. Rasulullah saw diisra’kan di waktu malam ke masjidil Aqsha dan dari masjidil Aqsha ini beliau saw. mi’raj menuju langit. Masjidil Aqsha merupakan kiblat pertama dan masjid ketiga yang disucikan. ‘Arafat dan kroninya yang tidak memahami tabi’at Islam dan kaum muslimin, menduga bahwa mereka mampu menyerahkan masjid al Aqsha kepada Yahudi dengan muslihat, janji-janji, dan ancaman kepada penduduk Palestina.

Melihat kenyataan ini, mereka memperoleh kesimpulan, bahwa masalah tersebut memerlukan pembantaian dan penumpahan darah yang banyak, untuk menteror kaum muslimin, dan untuk membuat kaum muslimin putus asa dalam mempertahankan kehormatan dan tanah mereka.

Arafat dan orang yang orang yang berkomplot dengannya (Barak, Clinton, Mubarak, dll) mempersiapkan arena pembantaian dan pertumpahan darah, dengan bentuk yang tidak sampai menimbulkan permusuhan penduduk Palestina terhadap Arafat. Sebaliknya, malah [menambah] simpati mereka terhadap Arafat.

Orang-orang Palestina tidak hanya mempertahankan Aqsha dan al Quds, akan tetapi mereka akan mempertahankan setiap jengkal [tanah] Palestina. Namun, selama ini pemimpin-pemimpin Arab dan sebagian kaum muslimin telah berkhianat terhadap mereka, dan bersekongkol melawan mereka sejak sebelum tahun 1948. Berbagai konspirasi terus berlanjut hingga mereka membentuk PLO, bukan untuk membebaskan Palestina, akan tetapi sebagai alat untuk menyerahkan Palestina. Dan agar penguasa-penguasa pengkhianat itu bisa mencuci tangannya dari dosa-dosa. Faktanya, organisasi yang dipimpin oleh Arafat ini, mulai melakukan persekongkolan, yang dirancang di Amerika dan Eropa untuk menghancurkan penduduk Palestina, dan membuat penduduk Palestina putus asa dari harapan-harapannya. Semua ini adalah manuver yang sangat kejam dan keji.

Manuver terkeji dan terkejam [yang digelar] saat ini, merupakan manuver yang telah direncanakan oleh para penguasa Palestina untuk melawan penduduknya.

Benar, Arafat telah bersekongkol untuk melawan dan menyembelih penduduk Palestina. Penduduk Palestina yang awam menyangka bahwa Arafat melakukan semua itu dengan penuh keikhlasan. Bahkan banyak orang memberikan applaus kepadanya! Yang membuat orang tertipu dengan siasat licik Arafat, adalah bahwa orang-orang Palestina siap berperang dan menyerahkan nyawa, harta dan segala-galanya, jika mereka mendapatkan pemimpin yang [berani] membuka pintu jihad dan pengorbanan. Namun, mereka selama ini ditekan, dibendung hingga mereka membisu, tersiksa dan rasa putus asa hampir membunuh mereka.

Lalu, saat ini ‘Arafat, orang yang menindas mereka demi menjaga keamanan Yahudi, datang dan memberikan jalan kepada mereka untuk membela diri, dan memberi harapan untuk mempertahankan hak dan kehormatannya. Maka, orang-orang Palestina berhamburan melakukan perlawanan, menghadapi tank dengan batu, menghadapi roket dengan ketapel, menyongsong pesawat-pesawat terbang dengan tangan kosong. Mereka bangga pada saat menyangka pemimpin mereka sebagai bagian dari mereka.

Sementara pihak-pihak lain yang bersekongkol dengan ‘Arafat berfikir, bahwa mereka mampu menjatuhkan dua burung dengan sekali timpuk. Pertama, ia (‘Arafat) akan mendapat kepercayaan kuat dari penduduk Palestina. Akibatnya, penduduk Palestina akan mendukung apapun yang dia setujui. Kedua, akan muncul keputusasaan baru dari penduduk Palestina, tatkala, mereka melihat negara-negara ‘Arab tidak menolong mereka, pada saat mereka tidak memiliki kekuatan militer yang seimbang dengan kekuatan militer Israel. Mereka berfikir, saat itu tidak mungkin ada yang lebih baik, dibanding dengan yang telah mereka miliki. Mereka akan rela menerima apapun (walaupun secuil) yang disodorkan kepada mereka.

Adapun rintangan lainnya dari sisi Yahudi yang berambisi mendapatkan segalanya: al Aqsha, al Quds, menjaga pemukiman [Yahudi], tidak mengembalikan pengungsi, mendapatkan keamanan dan kedamaian yang mereka kehendaki, serta normalisasi hubungan dengan Arab dan dunia Islam.

Akan tetapi, AS yang ngotot ingin memperoleh bagian atas al Quds, telah melakukan tekanan-tekanan kepada pemerintah Israel, dan mempengaruhi pemerintah Israel, bahwa mereka tidak akan mampu meraih seluruh ambisi-ambisinya. Oleh karena itu, mereka harus melepas beberapa hal, yang ditukar dengan perjanjian damai dan normalisasi [hubungan]. Namun, mayoritas Yahudi menolak untuk melepaskan [kepentingan-kepentingannya], sebab mereka tidak melihat sikap keras dari pihak Arab dan kaum muslimin.

Maka, dalam pandangan Amerika, harus ada tekanan atas mereka. Caranya dengan menyulut peperangan ini, hingga mereka mengetahui bahwa penduduk Palestina, bangsa Arab dan umat Islam siap untuk mati sebelum menyerahkan tempat-tempat sucinya. Selain itu, ini juga dilakukan sampai mereka bisa melihat bahwa umat Islam akan memaksa pemerintahnya untuk memutus semua hubungan dengan Israel. Kepentingan-kepentingan Israel di seluruh dunia akan menjadi sasaran penghancuran. Begitu pula orang-orang Yahudi di dunia akan menjadi target pembunuhan oleh kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Kondisi semacam ini akan menjadikan Yahudi mau menyerahkan sebagian kepentingannya, dan mau melanjutkan proses persetujuan lagi.

Khatimah

Demikianlah makar keji yang dirancang demi ambisi politik orang kafir dan sejumlah penguasa muslim antek mereka.

Jelas kepahlawanan kaum muslimin Palestina dieksploitir untuk memuluskan “piagam penyelesaian akhir” antara penguasa Palestina dengan Yahudi yang dirancang oleh AS.

Negara yang hendak diproklamirkan Arafat hanyalah seluas 10 % dari luas Palestina. Negara baru tersebut, kelak tidak akan pernah memiliki angkatan bersenjata. Tidak memiliki kebebasan mengurus perbatasan, pendapatan, dan pengeluarannya. Juga, tidak akan pernah memiliki hak menentukan politik luar negeri secara bebas. Urusan-urusan luar negerinya akan tetap diatur bersama dengan Yahudi. Negara itu juga tidak memiliki hak kedaulatan atas udara, isi perut buminya, dan air. Para penduduknyapun akan tetap tersebar dan dikerat-kerat kedalam kantong-kantong yang terpisah satu sama lain. Sementara itu, 80% penduduk akan berada dibawah kedaulatan Israel, dan sisanya 20% dibawah kontrol, yang dinamai negara Palestina. Kaum muslimin tetap di bawah penjajahan orang kafir. Padahal Allah SWT melarang hal demikian. Dia berfirman:

Dan Allah SWT tidak akan menjadikan jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin” (QS. An Nisa 141).

Wahai kaum muslimin, bangkitlah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: