Antara Atambua Dan Palestina : Ketidakadilan Dunia

M enhan AS, William S Cohen, dalam kunjungan singkatnya ke Jakarta beberapa waktu lalu, mengancam akan mengembargo Indonesia bila tidak segera melucuti milisi Timtim di Timor Barat. Cohen berang setelah mendengar berita, tiga petugas UNHCR tewas dalam kerusuhan di kamp pengungsi Timtim di Atambua. Bukan hanya Cohen, dunia internasionall (dunia Barat) juga kesal dengan kejadian itu. Kerusuhan di Atambua dirasakan telah mencoreng harkat dan martabat mereka. Bagii mereka, jiwa – apalagi petugas resmi PBB – harus dilindungi. Dan Indonesia dinilai gagal melindungi jiwa petugas PBB itu.

Dengan sangat cepat, dunia internasional segera mengambil langkah-langkah kongkrit menuntaskan kasus itu. Di antaranya melalui kunjungan Menhan AS, Cohen ke Jakarta sembari menebar ancaman. Di tingkat dunia, melalui PBB, mereka segera menerbitkan resolusi. Dengan mulus keluarlah Resolusi DK- PBB Nomer 1319/2000. Isinya di antaranya mendesak Pemerintah Indonesia untuk secepatnya melucuti dan membubarkan milisi yang ada. Sejumlah sanksi, termasuk kemungkinan dilakukannya embargo ekonomi, menunggu bila Indonesia dinilai tak mematuhi resolusi tersebut. Bahkan Bank Dunia juga turut mengancam tidak akan memberi dukungan dana bila Indonesia tidak mematuhi resolusi itu.

Pemerintah Indonesia pun sigap segera melaksanakan semua permintaan dalam resolusi itu. Bahkan pemimpin milisi pro integrasi Eurico Guterres, yang dulu dibina dan dipersenjatai, telah ditangkap.

Tidak lama setelah insiden Atambua, di Timur Tengah meletus peristiwa yang menewaskan sedikitnya 113 orang sipil dan melukai 1200 orang –di antaranya adalah anak-anak dan tenaga medis—ketika pasukan Israel membantai warga Palestina di kawasan Tepi Barat,, Jalur Gaza dan di beberapa wiilayah lain, menyusul aksi protes warga Palestina atas kunjungan provokatif pimpinan Partai Likud Ariel Sharon ke kompleks Masjid al-Aqsha pada Kamis 28 September lalu.

Apa reaksi dunia? Adakah tuntutan untuk segera melucuti serdadu Israel di wilayah pendudukan? Adakah Menhan AS, Cohen yang Yahudi itu, segera berkunjung ke Tel Aviv, untuk mendesakkan keinginannya sambil mengancam sebagaimana ia lakukan terhadap Indonesia? Adakah resolusi PBB yang mengecam Israel?

Memang ada resolusi PBB,, tapi resolusi banci. Yakni, tidak tegas menyebut Israel. DK-PBB hanya mengutuk penggunaan kekuatan yang berlebihan dalam bentrokan dengan warga Palestina. Bagaimana mungkin DK-PBB mengutuk penggunaan kekuatan yang berlebihan tanpa menyebut siapa pelakunya?

Sekjen PBB Kofi Annan, yang ikut hadir dalam acara pemungutan suara itu juga aneh. Ia menyerukan kepada semua pihak yang berkonflik di Timur Tengah menunjukkan sikap mengendalikan pasukannya, serta pendukungnya. Ia berkata seperti itu seolah-olah di sana tengah berhadap-hadapan pasukan dari dua pihak yang tengah bersengketa, padahal yang tejadi adalah pembantaian satu pihak, dalam hal ini serdadu Israel, terhadap pihak lain, yaitu warga sipil tak bersenjata yang tengah berunjuk rasa menentang kunjungan Sharon.

Di luar resolusi PBB yang setengah hati itu, Israel memang menuai banyak sekali kecaman dari berbagai belahan dunia, termasuk dari pemimpin negara-negara Arab tetangganya. Tapi seperti biasa, Israel tak acuh. Termasuk tak menghiraukan ancaman kemungkinan terjadinya perang terbuka di kawasan yang memang selalu bergolak itu. Israel tampaknya sangat percaya akan kemampuan militernya guna menghadapi kemungkinan konflik terbuka.

Menurut data pada Pusat Pengkajian Strategis Jaffee di Universitas Tel Aviv, Israel memiliki 2000 tank, 700 pesawat tempur, serta ribuan senjata artileri. Dalam hal personel, Israel memiliki 600.000 tentara. Modernitas militer Israel jelas tidak lepas dari bantuan AS. Israel sendiri juga punya jaringan satelit mata-mata serta sistem Hetz, sebuah teknologi anti rudal yang paling unik di dunia saat ini (Republika, 10 Oktober 2000).

Dibanding Israel, kekuatan militer negara-negara yang berbatasan dengan Israel seperti Yordania, Libanon, Syria, apalagi Palestina jelas bukan apa-apanya. Bahkan Palestina, yang katanya sudah merdeka dan memiliki wilayah sendiri, oleh masyarakat internasional pimpinan AS hingga kini tidak diizinkan memiliki sebuah angkatan bersenjata. Palestina hanya memiliki 30 ribu personel polisi. Sebagian besar mereka hanya bersenjatakan senapan serbu Kalashnikov. Palestina memang punya angkatan laut, tapi jumlah personelnya hanya beberapa ratus orang, dan lebih sekadar simbol. Di sektor pertahanan udara, Palestina hanya punya 2 helikopter untuk transportasi pemerintahan Yasser Arafat. Artileri, Palestina jelas tidak punya. Yang dipunyai Palestina hanyalah sejumlah kendaraan pengangkut personel. Jadi, bagaimana akan bertempur melawan Israel?

Logika Keadilan Dunia?

Membandingkan fenomena Atambua dan Palestina segera menyadarkan kita bahwa ada masalah dalam logika keadilan internasional di situ. Terhadap tiga orang petugas PBB yang mati di Atambua, dunia (Barat) cepat sekali bereaksi. Sementara terhadap ratusan orang, di antaranya anak-anak dan petugas medis, yang tewas diberondong peluru, dunia tampak biasa-biasa saja. Padahal, di Atambua mungkin saja para milisi bertindak karena kesal terhadap ulah para petugas itu, sementara para pendemo di masjidil al-Aqsha sedang beraksi untuk mempertahankan hak dan martabatnya dari tindakan biadab para pemimpin Israel. Tapi mengapa justru, peristiwa di masjid itu dianggap sebagai kewajaran sementara dii Atambua sebagai kejahatan? Bukan sebaliknya?

Menurut M.Alfan Alfian (Republika, 9/10/2000), insiden Atambua tidaklah berdiri sendiri. Ia berkait dengan skenario besar yang melibatkan kelompok internasional yang memiliki kepentingan politik atas Timor Timur pasca kemerdekaan. Bahkan sebenarna bukan hanya pasca kemerdekaan, dalam proses jajak pendapat pun campur tangan dunia internasional sudah sangat tampak. Bagaimana pun, Timtim adalah daerah yang sangat strategis yang terletak di wilayah yang juga sangat strategis. Maka, menguasai Timor Timur, dalam geopolitik berarti telah menguasai suatu wilayah strategis sebagai bekal penting dalam percaturan politik dunia.

Dengan logika yang sama, kita juga melihat bahwa sudah lama terdapat konspirasi internasional untuk melanggengkan keberadaan negara Israel dan pendudukannya atas wilayah Palestina. Perundingan perdamaian hanyalah sandiwara untuk mengulur waktu, sambil terus membantai dan mengusir warga Palestina serta membangun pemukiman Yahudi di wilayah Palestina.

Bila dicermati, bukan kali ini saja dunia Barat bertindak tidak adil. Barat begitu getol mendukung jajak pendapat di Timor Timur untuk lepas merdeka dari Indonesia. Tapi mengapa ketika Dagestan – negara bagian Rusia yang penduduknya mayoritas muslim — menyatakan merdeka, Barat tidak mendukung? Barat mengecam tindakan militer Indonesia di Timor Timur yang menurut mereka telah melakukan tindakan yang menurut mereka sebagai pelanggaran HAM dan sekarang sejumlah perwira tengah disidik untuk diajukan ke pengadilan. Tapi mengapa Barat diam saja ketika Rusia menggempur habis Chechnya, juga Dagestan, untuk menghentikan upaya kemerdekaan dua wilayah itu, malah menganggapnya sebagai urusan dalam negeri Rusia sendiri, dan tidak dianggapnya sebagai melanggar HAM? Mengapa sikap Barat terhadap kemerdekaan Timor Timur dan Dagestan atau Chechnya berbeda? Mengapa ketika Timor Timur merdeka, Barat menganggap itu sebagai hak asasi mereka, sementara kepada muslim Dagestan tidak? Apakah hak asasi hanya berlaku untuk orang Kristen, yang pro mereka, sementara buat orang Islam tidak? Mengapa pula Barat tidak pernah mengecam Rusia yang telah menghambat kemerdekaan Dagestan? Mengapa pula Barat tidak mengembargo Rusia, atau menyeret perwira militernya ke pengadilan dengan tuduhan melanggar HAM sebagaimana mereka lakukan terhadap perwira TNI di Indonesia yang katanya telah melanggar HAM di Timtim? Mengapa di Timtim bisa terjadi pelanggaran HAM, sementara di Dagestan tidak?

Mengapa pula Barat tidak mengutuk terang-terangan Israel yang jelas-jelas telah membantai warga sipil tak bersenjata? Mengapa Barat tidak menyeret perwira militer Israel dengan tuduhan pelanggaran HAM sebagaimana dilakukan terhadap perwira militer Indonesia? Mengapa pula Palestina sebagai negara merdeka tidak boleh membangun kekuatan militer, sementara Israel dibiarkan mengembangkan teknologi persenjataannya, termasuk teknologi nuklir?

Mengapa ketika orang-orang Kristen di Ambon menyerang secara membabi buta warga muslim yang sedang berlebaran di sana, Barat tidak menganggapnya sebagai pelanggaran HAM. Mengapa ketika warga muslim di sana terdesak, Barat tidak bereaksi, giliran warga non-muslim terdesak Barat berteriak-teriak, dan segera menyerukan campur tangan internasional?

Mengapa pula Barat diam seribu basa menyaksikan pembantaian ribuan penduduk Aceh sekian tahun lamanya, dan tidak pernah menyebutnya sebagai pelanggaran HAM, dan karenanya tidak pernah meminta peradilan terhadap para perwira yang bertugas di sana, sementara hanya sekian belas orang yang mati di Timtim, Barat berteriak kencang? Mengapa Barat diam saja saat terjadi pembantaian di Tanjung Priok? Pernahkah Barat mengusulkan penyelidikan terhadap para perwira yang terlibat dalam peristiwa itu? Mengapa bila yang menjadi korban orang-orang Kristen, atau pihak yang pro mereka, Barat bereaksi cepat, sementara bila yang menjadi korban orang-orang Islam, Barat diam tak acuh, dengan dalih macam-macam?

Jadi, mengapa pula bila korbannya warga non-muslim, Barat menyebut telah terjadi pelanggaran HAM, sementara bila korbannya orang Islam, Barat tak acuh saja? Mengapa?

Khatimah

Jelas sekali, dunia Barat memang tidak adil. Ketidak adilan itu bukan tidak disadari. Itu mereka disadari sebagai metode mereka untuk melanggengkan dominasi, atau meraih dominasi baru.

Umat Islam se dunia jelas merupakan korban dan akan terus menjadi korban atau dikorbankan untuk ketidakadilan Barat, demi terus melanggengkan dominasinya atas dunia Islam.

Masihkah kita mau terus diperlakukan secara tidak adil? Bila tidak, maka janganlah mau didominasi. Untuk itu, kita harus kuat. Kuat secara politik, secara ekonomi, dan kuat pula secara militer. Kekuatan itu baru muncul bila umat bersatu di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyyah. Di sinilah pentingnya perjuangan menegakkan daulah Khilafah. Tanpa khilafah kita akan terus kalah. Bukankah Allah SWT tidak mengijinkan yang demikian? Marilah kita renungkan firman-Nya:

“Dan Allah sekali-kali tidak memberikan jalan kepada orang-orang kafir menguasai orang-orang mukmin” (QS. An Nisa 141).

Wallahu a’lam bi al-shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: