Bahaya Kekufuran Di Balik Jubah Islam

Pemimpin Libya Muamar Khadafi yang dikabarkan akan datang ke Jakarta pada tanggal 22 Juni 2000 memenuhi undangan Gus Dur dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad saw tidak jadi datang. Lebih dari itu Menteri Luar Negeri Alwi Shihab mengatakan, peringatan Maulid Nabi Muhammad saw tidak jadi dilaksanakan karena masing-masing kepala negara menyatakan tidak bisa datang.

Acara ‘dadakan’ yang muncul ketika Gus Dur masih di luar negeri itu langsung ditanggapi oleh pengamat politik Indria Samego yang berpendapat bahwa langkah Gus Dur itu adalah dalam rangka mengcounter sikap dan langkah politik mereka yang dikatakan Gus Dur sebagai kelompok Islam galak. Seolah Gus Dur ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak hanya berteman dengan Israel, tapi juga dengan Khadafi yang di kalangan Barat dikenal sebagai pemimpin teroris. Indria juga menegaskan bahwa dengan langkah ini Gus Dur ingin menunjukkan kepada publik bahwa kelompok Islam galak di negeri ini sebenarnya cuma ikut-ikutan.

Pertanyaan kita, tepatkah Khadafi dijadikan lambang Islam garis keras (oleh pers Barat)? Siapakah sebenarnya Khadafi itu? Benarkah ia berjuang untuk Islam? Tepatkah pula istilah Islam garis keras, Islam galak, Islam teroris, atau istilah lain karangan orang-orang Barat itu ? Tulisan ini mencoba mengurai nya agar kaum muslimin tak mudah ditipu oleh musuh.

Khadafi Simbol Islam?

Di saat umat haus simbol pemimpin yang berani menggugat kemapanan yang memojokkan Islam, muncullah tokoh-tokoh yang dianggap berani menentang hal itu lalu jadilah ia digambarkan sebagai simbol perlawanan umat. Khadafi sekedar salah satu contoh. Orang menilai bahwa Khadafi termasuk tokoh dunia Islam yang berani menggertak negara-negara kapitalis seperti Inggris dan AS. Dalam kasus Lockerbie terlihat sekali hal itu. Khadafi juga sering sesumbar uuntuk membebaskan tanah Palestina dan Masjidil Aqsha dari Israel. Tipologi Khadafi kita jumpai pada Saddam Husein, Jamal Abdul Nashir dan Soekarno pada tahun 60-an.

Kemiripan yang paling menonjol di antara mereka adalah perlawanan mereka kepada kolonialisme kapitalisme dan dasar pemikiran atau ideologi mereka dalam menentang kapitalisme. Ideologi mereka yang jelas adalah nasionalisme yang diwarnai oleh sosialisme. Saddam terkenal dengan partai sosialis Baath (dalam bahasa Arab disebut Hizbul Ba’ts alias Partai Kebangkitan). Jamal Abdul Nashir terkenal dengan program sosialisme negaranya. Soekarno yang pencetus Marhaenisme terkenal dengan doktrin Nasakomnya. Dan Khadafi yang terkenal dengan “Buku Hijau”-nya (Kitabul Akhdlar/Green Book) mengijinkan berkembangnya faham atheisme di tanah Islam yang bernama Libya.

Majalah Al Wai’e edisi nomor 117 Syawal 1417/1997 yang terbit di Beirut menurunkan tulisan Ma’ali Abdul Hamid Hamoudah yang pernah berkunjung ke Libya untuk menghadiri undangan Universitas Nasser Internasional pada Lomba Ilmiah 23-31 Juli 1996 yang kiranya dapat menyingkap tabir Muamar Khadafi. Hamoudah menulis bahwa Khadafi adalah penguasa diktator yang sejak Revolusi September 1969 hingga kini justru selalu menentang Islam. Hamoudah menulis bukti-bukti pernyataannya sebagai berikut:

Pertama, Khadafi melancarkan program Ar Ruhbanah Ats Tsauriyah atau “Kerahiban Revolusioner” yakni gerakan Kerahiban Wanita Revolusioner sebagai sayap wanita dalam komite revolusi sejak tahun 1981. Para wanita yang mengikuti program ini menolak kawin dan tanggungjawab keluarga. Mereka dilatih dengan latihan militer dan diberi perlengkapan militer. Dan para wanita yang menjadi rahib revolusioner itu mewaqafkan diri mereka kepada Khadafi dengan anggapan seperti para biarawati Nasrani mewaqafkan diri kepada Yesus.

Program ini sebenarnya ditentang rakyat Libya karena memang kerahiban tidak ada dalam Islam. Di samping itu keluarga-keluarga Libya khawatir terhadap puri-putri mereka kalau-kalau terpengaruh oleh gerakan yang berlandaskan kekacauan moral dan ketidaktahuan terhadap nilai-nilai Islam tersebut. Namun sebagaimana biasanya, Khadafi mencari-cari dalih untuk membenarkan sikap dan tindakan yang nyeleneh itu. Dia mengatakan bahwa gerakan kerahiban wanita itu merupakan bentuk nyata untuk membebaskan Palestina dan Masjidil Aqsha serta tanah-tanah Arab yang diduduki Israel. Ketika para ulama di Tripoli dan Banggazi menolak program tersebut. Khadafi menggelari mereka sebagai pengkhianat revolusi dan anti pembebasan negeri-negeri Arab. Khadafi menuduh bahwa pernyataan tak ada kerahiban dalam Islam sebagai bid’ah. Khadafi –seperti dituturkan Hamoudah– dengan ketidak-tahuannya tentang agama Islam justru mengklaim dirinya sebagai seorang faqih dan dengan ngawur dia memanipulasi ayat tentang kerahiban sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya” (QS. Al Hadid 27).

Tahun 1984 dibuat demonstrasi kaum wanita yang menuntut dilanjutkannya program kerahiban wanita revolusioner dan wajib militer bagi wanita.

Kedua, Pemerintahan Khadafi melalui keputusan Menteri Kesehatan membolehkan para dokter melakukan praktek aborsi (menggugurkan bayi dari kandungannya) secara resmi di rumah-rumah sakit umum milik pemerintah. Masyarakat pun menghubungkan keputusan berbahaya itu dengan program kerahiban wanita revolusioner dan wajib militer bagi para gadis Libya yang berpeluang besar kepada terjadinya pemerkosaan dan pelecehan seksual.

Ketiga, Khadafi menolak sunnah Nabi Muhammad saw. Dia hanya menerima Al Qur’an. Untuk menggantikan posisi As Sunnah, Khadafi menulis buku yang berjudul Kitabul Akhdlar atau “Kitab Hijau” (Green Book). Isinya terdiri dari tiga bagian atau bab yang antara lain menyebutkan bahwa semangat nasionalisme mengalahkan semangat keagamaan, dan ekonomi mesti ditata dengan ekonomi sosialis. Dalam pertemuan ilmiyah tahun 1996 yang diikuti penulis tersebut, forum yang didesain dengan sosialisasi ide-ide yang ada dalam Green Book itu diisi para pembicara yang membahas topik-topik yang bertentangan dengan Islam dan bernuansa sosialis, seperti: Zandaqah (kezindiqan) dan penggunaan agama untuk politik, demokrasi dan HAM dalam perspektif massa, gerakan historis, serta sistem ekonomi dalam perspektif sosialis kolektif. Bahkan sangat disayangkan bahwa dalam rapat pembukaan, salah satu penanggung jawab acara itu mengatakan bahwa Qadafi adalah seorang nabi. Dan salah seorang panitia pengarah mengatakan bahwa penerapan syari’at Islam itu sekedar pilihan (opsional), yakni bukan wajib.

Keempat, dalam membela sosialisme, Khadafi mengatakan kepada para kepala negara Arab: “Kalian sekarang memanen apa yang kalian tanam. Kalian telah memerangi gerakan revolusioner, Gerakan modernisasi/progressif Arab, gerakan Nashiriyah, kalian memerangi pemikiran revolusioner, pemikiran modernis”. Khadafi juga mengatakan: “Kita wajib berperang demi sosialisme dan memuaskan masyarakat dengan sosialisme”. Yang amat menyakitkan lagi Khadafi mengatakan: “Janganlah kalian terkecoh terhadap ucapan yang mengatakan bahwa sosialisme telah jatuh dan bahwasannya sosialisme telah gagal. Sosialisme belum tegak sehingga bagaimana dikatakan gagal. Dan sosialisme bila telah tegak tidak akan jatuh”.

Kelima, Khadafi membentuk komite-komite revolusioner di setiap tempat, perusahaan, pabrik, pasar, sekolah, fakultas, tentara dimana kebanyakan anggota komite-komite itu dari badan intelijen Libya yang pekerjaannya terus-menerus memonitor masyarakat. Bahkan kepada para dosen dan mahasiswa tamu yang belajar dan mengajar di negerinya, Khadafi berpesan agar mendirikan komite revolusioner dan gerakannya di negara masing-masing.

Itulah kurang lebih gambaran tentang Khadafi dan sikapnya terhadap gerakan-gerakan Islam yang mungkin di sini dicap sebagai gerakan Islam galak, justru Khadafi memusuhi mereka dan mencap mereka dengan sesuatu yang tidak patut. Khadafi dan para pengikutnya menyebut gerakan-gerakan Islam yang ada di negerinya sebagai gerakan kaum Zindiq (atheis) yang merupakan turunan dari gerakan Zindiq yang ada pada masa Abbasiyah. Gerakan Islam menurut mereka justru memperalat agama untuk kepentingan politik. Persis seperti pandangan negara kafir imperialis terhadap Islam.

Oleh karena itu, adalah merupakan penyesatan politik kalau Khadafi, sebagaimana tokoh-tokoh yang sudah disebut di atas digambarkan sebagai simbol Islam, terlebih simbol Islam garis keras!

Jangan Terkecoh

Setelah memahami apa yang ada di balik tabir figur Khadafi, maka kaum muslimin perlu mengambil sikap yang tegas bahwa siapapun orangnya, apabila ucapannya bertentangan dengan Islam atau seruannya kepada selain Islam, tidaklah dapat dikategorikan sebagai pejuang Islam, apalagi simbol gerakan Islam. Umat tidak perlu terkecoh dengan sebutan kepala negara Islam kalau ternyata dalam menjalankan kebijakan poltik maupun ekonominya tidak berdasarkan Islam tetapi malah berdasarkan ideologi lainnya.

Umat Islam tetap harus berjuang dengan penuh semangat untuk menegakkan agama Allah SWT tanpa perlu menyesal bahwa tokoh idola mereka seperti Khadafi ternyata bukan perjuang Islam apalagi simbol gerakan Islam untuk memelihara kemaslahatan kaum muslimin. Istilah “Islam galak” yang pada akhir-akhir ini merebak kiranya sejajar dengan istilah “Islam garis keras” atau “Islam fundamentalis” atau “Islam ekstrim” yang dulu di masa orde baru –khususnya pada dekade tujuh puluhan dan delapan puluhan– sangat gencar digunakan oleh penguasa untuk memojokkan Islam dan kaum muslimin. Kasus Lampung, kasus Tanjung Priok, kasus Pembajakan Pesawat Garuda Woyla, Peledakan BCA, kasus Imran dan kasus Komando Jihad serta yang paling baru kasus AMIN, digunakan untuk melengkapi istilah di atas dengan kosakata yang lebih menusuk ke jantung umat, yakni “Islam teroris”.

Istilah-istilah tersebut, di samping merupakan pemojokan terhadap Islam dan kaum muslimin juga merupakan penyesatan dan tipuan politik untuk menutupi hal yang sebenarnya, dan hal itu merupakan gejala umum di seluruh dunia Islam. Gerakan-gerakan Islam yang berjuang untuk menegakkan Islam dicap sebagai gerakan fundamentalis yang didefinisikan Barat sebagai gerakan yang menggunakan agama sebagai alat politik atau demi keuntungan politik jangka pendek. Bila gerakan Islam tersebut menggunakan cara-cara fisik seperti Tanzhimul Jihad di Mesir, maka pemerintah dunia Islam dengan pengarahan pers Barat dan para penasihat politik dan militer Barat membuat berbagai rekayasa untuk membatasi gerak dan mematikan gerakan tersebut, antara lain dengan menuduh mereka sebagai kaum teroris untuk menjauhkan gerakan tersebut dari umat Islam. Untuk gerakan yang hanya menggunakan metode perjuangan politik (kifah siyasi) dan pertarungan pemikiran (shira’ul fikri) seperti Hizbut Tahrir di Yordan dan negara-negara Timur Tengah lainnya, para pimpinan negara Islam itu memojokkannya dengan istilah irhabul fikri alias “teroris pemikiran”.

Dalam kamus istilah Islam tidak ada istilah Islam moderat maupun Islam ekstrim atau istilah-istilah tersebut di atas yang merupakan produk Barat dari khazanah kebudayaan dan gerakan yang ada di masyarakat Barat. Islam memberikan istilah mukmin bagi seorang muslim yang benar-benar beriman kepada diinul Islam, taqi atau muttaqi bagi seorang muslim yang benar-benar terikat dengan aturan hukum Islam, yakni perintah dan larangan Allah SWT, munafiq untuk orang yang berpenampilan Islam padahal hatinya menolak Islam bahkan membenci Islam, fasik dan zalim untuk seorang yang masih mengimani diinul Islam namun kerap melanggar aturan hukum syari’at Islam.

Dengan demikian umat Islam jangan terkecoh oleh istilah-istilah memojokkan dan memecahbelah tadi.

Khatimah

Jelaslah bahwa rencana kedatangan bukanlah sekedar menghadiri peringatan Maulid, melainkan untuk memperkuat kedudukan pemerintah. Demikian juga rencana kedatangan pemimpin-pemimpin negara-negara Islam yang dijadwalkan hadir pada acara tersebut adalah untuk menutupi segala kekurangan pemerintah yang kini tengah menuai badai kritik dari berbagai pihak.

Hanya saja yang perlu kita ingat, kalau maulid di masa Sultan Shalahuddin Al Ayyubi dihadiri oleh para panglima dan pejabat di wilayah-wilayah di bawah naungan Khilafah Islamiyyah untuk membangkitkan kaum muslimin dalam menghadapi musuh mereka pasukan Salib dari Eropa, kini Maulid di negeri ini malah dihadiri oleh orang seperti Khadafi yang sejak berkuasa tahun 1969 hingga kini tak henti-hentinya melakukan penyimpangan dari Islam, cenderung pada sosialisme, serta menyerang para pejuang penegak Islam. Semoga ini bukan konspirasi untuk menghalangi perjuangan kaum muslimin menegakkan Islam. Walau demikian kaum muslimin mesti tetap waspada.

Kaum muslimin tentu yakin, Allah SWT akan membalas segala konspirasi musuh-musuh-Nya. Allah SWT berfirman:

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Anfal 30).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: