Banser GP Anshor, Jadilah Anshor Sejati

Perseteruan antara warga NU dengan Jawa Pos (JP) tampak belum berakhir. Sekalipun sudah ada kesepakatan dan permohonan maaf, tampaknya masih ada ketidakpuasan. Ini terlihat dari usulan cabang-cabang NU agar PBNU menginstruksikan supaya warga NU putus hubungan dengan JP.

Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi pun masih menyesalkan sikap JP yang dinilainya keras kepala dan licik. Sebab, meski JP secara terbuka minta maaf dan menyanggupi melaksanakan sejumlah tuntutan pihak Banser (Barisan Anshor Serbaguna) GP Anshor, namun sayap media JP, seperti tabloid X-File masih memuat artikel yang tak mengenakkan bagi warga NU. Sejumlah ulama sepuh NU pun mengeluarkan fatwa yang mengharamkan ‘umatnya’ membeli atau membaca JP.

Buah Tindakan Tanpa Kearifan

Konflik tersebut bermula dari pemberitaan JP (6 Mei 2000) yang dinilai memfitnah Ketua PBNU Hasyim Muzadi, serta mendiskreditkan NU. Karena itu, ratusan anggota Banser GP Anshor Surabaya protes dengan menduduki ruang redaksi JP. Pendudukan yang disertai amarah ‘menyegel’ perangkat-perangkat pendukung seperti komputer dan telepon. Koran tersebut esoknya terpaksa tidak terbit (Minggu,7/5).

Peristiwa tersebut mengundang banyak komentar, khususnya dari komunitas pers. Hampir semua komentar mereka bernada menyesalkan bahkan mengecam tindakan Banser GP Anshor. Anehnya, Presiden Gus Dur justru meresponnya dengan melempar sinyalemen adanya komplotan yang sedang berusaha menjatuhkan pemerintahannya sebelum Agustus 2000. Caranya adalah menyebarkan citra yang jelek tentang dirinya di masyarakat. Gus Dur menunjuk kasus pemberitaan seputar praktik KKN yang dilakukan oleh adik kandungnya, Hasyim Wahid, seperti diberitakan JP.

Presiden menilai, JP telah melanggar semua kode etik jurnalistik. Karena, ia mengutip pemberitaan itu dari Tempo, padahal Tempo sudah mengakui salah dan meminta maaf. Namun hal itu disesalkan Majelis Kode Etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia. Menurut Majelis ini, siapa pun yang merasa suatu media melakukan pelanggaran kode etik, ia berhak mengadukannya kepada lembaga yang berkompeten, yakni Dewan Pers. Majelis juga menyesalkan pernyataan Presiden yang cenderung membenarkan aksi pendudukan massa Banser terhadap redaksi JP.

Sikap Anomali

Memang, banyak anomali muncul dari bangsa yang sedang didera krisis ini. Di tengah kuatnya tuntutan untuk melakukan reposisi militer dan membuang pola militerisme, malah muncul kecenderungan gaya militer dari kalangan sipil. Setiap parpol memiliki satgas yang bertindak dan berpakaian seperti militer. Menurut Letjen (purn) Sayidiman Suryohadiprojo, itu merupakan gejala fasisme (Republika, 16 /5/00).

Ketika supremasi hukum menjadi dambaan semua lapisan, muncul tindakan-tindakan main hakim sendiri di berbagai kalangan, bahkan –sayangnya– kalangan santri semacam Banser.

Ketika Gus Dur dengan gigih mengusulkan pencabutan Tap MPRS No XXV tentang larangan Komunisme dengan alasan konstitusi menjamin setiap orang untuk berpandangan dan berpendapat apa pun di negeri ini, beliau yang biasa cuek itu justru tampak emosional tatkala ada kritikan mengarah kepadanya. Dalam pada itu para ulama NU yang mestinya teduh dan penuh maaf, malah tampak ikut-ikutan emosional.

Mencari Jalan Keluar

Harus disadari, dalam konteks persoalan ini, pemicu kesalahan pertama adalah pers, dalam hal ini JP. Kemerdekaan pers bukanlah dalil yang membenarkan penyampaian berita tanpa fakta, penyebaran opini untuk suatu tujuan jahat atau merusak kehormatan individu maupun kelompok masyarakat. Kebebasan pers yang diajarkan Barat, sejatinya adalah ‘narkotika’ pembawa bencana. Sebab, kebebasan pers yang mengandung muatan liberalisme, berapa pun kadarnya, dapat menimbulkan guncangan di masyarakat. Kalau ada sisi positifnya, efek negatifnya jauh lebih besar.

Kehidupan pers akan memenuhi fungsinya secara sehat, hanya bila bersandar pada obyektivitas dan nilai-nilai kebenaran. Artinya, dalam mengetengahkan atau mengungkap suatu fakta maupun peristiwa, harus benar-benar berdasarkan kenyataan sebagaimana adanya. Tetapi itu tidak mencakup fakta-fakta yang bertendensi menyingkap aib seorang muslim atau pun ahli zhimmah. Kecuali, seseorang itu adalah tokoh yang membahayakan kehidupan umat Islam dan membukakan aibnya itu lebih mendatangkan mashlahat bagi negara dan kaum muslimin.

Al Quran memberikan pendidikan tentang bagaimana merespon dan menyikapi suatu informasi, seperti tertuang dalam salah satu surah:

“… Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka lakukanlah ‘tabayyun’ agar dengan itu kamu tidak menimpakan suatu bencana kepada suatu kelompok tanpa mengetahui keadaan sebenarnya, yang menyebabkan kamu menyesali tindakanmu itu.” (QS. Al Hujuraat: 6)

Perintah melakukan tabayyun, yakni melakukan cek dan ricek secara cermat. Sebab, tabiat orang fasik itu sering menyebarkan berita dusta.

Tindakan kasar yang diambil Banser dan GP Anshor terhadap JP tak bisa dibenarkan. Mereka sepatutnya terlebih dahulu memperingatkan orang-orang JP tentang besarnya dosa merusak kehormatan seorang muslim dan menasihatinya agar bertobat dan tidak mengulanginya lagi. Apabila ternyata pihak JP kembali menyebarkan berita dusta yang sangat merugikan, mintalah kepada pemerintah/ penguasa (melalui aparat penegak hukum dan ketertiban) untuk mengambil tindakan tegas kepada mereka yang merugikan nama baik kaum muslimin, apalagi kalau itu seorang ulama yang sangat kita hormati bersama. Itulah sikap dan cara yang sesuai dengan akhlak Islam.

Tindakan pendudukan disertai amarah, caci maki kasar, ancaman, dan perusakan fisik oleh Banser GP Anshor, justru merupakan pelanggaran yang dilarang oleh Islam. Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap muslim atas muslim yang lain ada batas keharaman, berkaitan dengan darah (jangan saling melukai), kekayaan, dan kehormatannya.” (HR. Muslim dari Abi Hurairah).

Tidakkah kawan-kawan di Banser GP Anshor ingat tentang sebuah riwayat hadits yang menyebut seorang muflis (si bangkrut), yakni orang yang membawa amalan kebaikan di akhirat setinggi gunung, lalu datang orang lain yang pernah dizhaliminya di dunia dan meminta balasan di akhirat? Maka Allah SWT memberikan pahala si zhalim itu kepada yang dizhalimi untuk menghapus dosa-dosanya. Manakala dosa itu tak terhapus, dosa-dosa itu ditimpakan kepada orang yang membawa pahala tadi sehingga dia terjungkal ke dalam neraka!

Andaikan Gus Dur tidak emosi dan menasihati para Banser dengan hadits di atas, insya Allah cara-cara kekerasan tak akan dilakukan oleh Banser, satgas-satgas parpol, polisi, tentara, maupun pemerintah sendiri. Begitulah yang seharusnya menurut Islam, pemerintah mesti menasihati rakyatnya. Sebab, kata Nabi, siapa yang diangkat jadi penguasa dan dia tidak menasihati rakyatnya, maka dia tidak akan mencium bau surga, Na’udzubillahi mindzalik!

Semestinya itu pula yang dinasihatkan oleh para ulama kepada anak muda Banser. Kita sungguh sedih, kata-kata ancaman Banser Surabaya yang sangat kasar –yang orang Jawa Timur pun bergidik mendengarnya– ditayangkan di televisi. Kalau para ulama menjewer tindakan kasar para Banser, tentu nama ulama akan sangat harum. Karena berarti telah amar makruf nahi mungkar dan bersikap adil. Dalam hal ini, ucapan mereka pasti lebih didengar dan dihormati oleh anak muda Banser, termasuk juga oleh kawan-kawan di JP. Bukankah mereka adalah bagian dari umat yang perlu dibimbing, diluruskan jalannya, dan diperingatkan?

Mengenai fatwa keharaman membeli JP, kita bertanya, bagaimana mungkin suatu produk hukum diperuntukkan dan hanya mengikat golongan masyarakat tertentu, yakni warga NU? Bukankah seluruh produk hukum syara’ bersifat umum mengikat kaum muslimin semuanya. Juga apa bisa diterima fatwa yang dikeluarkan dalam suasana kemarahan? Bukankah Rasulullah saw. bersabda:

Tidak boleh seorang qodhi memutuskan suatu perkara, sedang ia dalam keadaan marah.”

Andai para ulama itu menyeru kepada semua pihak agar kembali kepada ketentuan Islam, dan masing-masing takut kepada Allah (bukan takut kepada kekuasaan atau kekerasan), tentu seruan ulama akan lebih bergema.

Khatimah

Kepada saudara kami khususnya para anggota Banser, GP Anshor, warga NU,dan generasi kaum muslimin umumnya kami sampaikan nasihat. Bila kalian ingin mengemban citra sebagai anshor, janganlah kalian bersikap arogan dan berlaku seperti agresor. Tidak sepatutnya kalian menjadi anshor bagi penguasa zhalim yang mencampakkan Islam sebagai dinullah, menyia-nyiakan hukum-hukumnya, dan lebih memuja simbol-simbol kekufuran ketimbang mengagungkan Islam. Sebab, cepat atau lambat Allah niscaya akan menghinakan mereka dengan kemurkaan-Nya.

Jadilah kalian semua anshor bagi agama Allah, pembela yang ikhlas bagi risalah Rasulullah SAW sebagaimana para sahabat dan kaum muslimin terdahulu. Sambutlah seruan Allah:

“Hai orang-orang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”. (QS. Ash-Shaf 14)

Jika agama Allah yang kalian tolong, Allah SWT akan menguatkan kalian. Firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama ) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad: 7)

Percayalah bahwa kehancuran yang menimpa negeri ini, juga negeri-negeri muslim lainnya takkan pernah dapat direhabilitasi, kecuali bila kaum muslimin kembali melanjutkan kehidupan Islam, mengumandangkan jihad kepada seluruh bangsa di dunia, di bawah naungan Khalifah Rasyidah. Allahumma unshurnaa yaa Rahmaan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: